Sambangi Nenek Murah, Siswa SMP Negeri 1 Margasari Didoakan Sukses dan Pintar

VIRALNYA kondisi nenek Murah (80), warga Desa Jatilaba RT 01/RW 10 Kecamatan Margasari Kabupaten Tegal mengundang simpati dan keprihatinan berbagai pihak. Itu pulalah yang menggugah simpati dan keprihatanan OSIS SMPN 1 Margasari bersama Jurnalistik Spensama, saat memberikan bantuan uang dan sembako, Kamis (16/9) lalu.
Nenek Murah yang sebatangkara, memang menyita perhatian bagi siapa saja yang mendengar maupun yang membaca kehidupan kesehariannya melalui berita-berita online atau medsos (media sosial). Di usianya yang sudah senja, Nenek Murah harus menjalani hidupnya seorang diri, tak terkecuali untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Untuk makan, Nenek Murah hanya mengandalkan hasil dari dia mencari barang bekas yang tidak seberapa jumlahnya. Dengan sisa-sisa kekuatan tenaganya, Nenek Murah hanya dapat mengumpulkan sejumlah plastik bekas minuman mineral serta kertas kardus yang tidak seberapa jumlahnya.
Jika dirupiahkan sekitar Rp1.500 penghasilan Nenek Murah dari hasil mengumpulkan barang bekas. Dulu saat tenaganya masih mampu, nenek Murah sempat berjalan cilok. Namun, modal dia berjualan semakin hari kian menipis bahkan habis, sehingga nenek Murah terpaksa menyambung hidupnya dengan mencari barang bekas.
Nenek Murah tinggal di rumah yang dikategorikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Itu sudah pasti menguras air mata. Bagaimana tidak, di rumahnya sama sekali tidak ada penerangan yang memadai. “Gentenge wis pada bocor, bolong, ger udan, banyune ora mung netes tapi gemrawah saambane umah (atapnya sudah pada bocor, kalau hujan, airnya tidak hanya menetes tapi melimpah ke semua sudut rumah, Red.),” kata nenek Murah.
Ketika hujan tengah malam, saat orang lain lelap tidur, nenek Murah kelimpungan mencari wadah sebagai tempat sekadar menampung air hujan yang tidak seluruhnya tertampung lantaran tingkat kebocoran hampir merata di dalam rumahnya. Ia hanya bisa bersabar dan bertawakal menjalani hidupnya.
Kami sempat mendengar isu bahwa Nenek Murah tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah. Namun, setelah kami klarifikasi kepada Jumadi, Kepala Desa Jatilaba, ternyata ada alasan mendasar hingga nenek Murah tidak pernah mendapat bantuan.
“Pihak desa sudah mengajukan ke Pemerintah Pusat. Namun, karena adanya beberapa kendala seperti NIK (Nomor Induk Kependudukan) yang bermasalah serta tidak memiliki KK (Kartu Keluarga), akhirnya tidak bisa diproses oleh pemerintah sehingga tidak mendapatkan bantuan. Apalagi rumah yang dihuni oleh nenek Murah bukan milik sendiri melainkan milik saudara,” ujarnya.
Mungkin banyak yang belum mengetahuinya, tetapi nenek Murah sudah pernah menikah dengan laki-laki asal Kuningan. Namun, pernikahan itu hanya bertahan selama lebih kurang dua tahun.
Nenek Murah diceraikan oleh suaminya, karena tidak bisa memberikan keturunan selama masa pernikahannya tersebut. Sejak saat itu, Nenek Murah ditinggalkan suaminya yang kembali ke Kuningan dan Nenek Murah memutuskan untuk tidak menikah lagi.
Sebenarnya, nenek Murah mempunyai beberapa saudara yang hidup cukup mampu. Namun, kurangnya tingkat kepedulian membuat Nenek Murah seperti hidup sebatang kara.
Setelah viralnya nenek Murah banyak pihak yang merasa empati terhadap kondisi Nenek Murah, akhirnya banyak pihak yang memberikan bantuan entah itu dalam bentuk uang, sembako, dan lain-lain. Donasi untuk Nenek Murah beserta para lansia yang membutuhkan sudah kurang lebih Rp140 juta.
Tak jauh dari rumah Nenek Murah, ada seorang nenek bernama Nenek Dasri yang kondisinya lebih memprihatinkan. Nenek Dasri sama sekali tidak memiliki saudara. Atas dasar empati warga sekitar, akhirnya dibangun rumah satu petak di atas tanah warga yang dermawan.
Keseharian Nenek Dasri sama seperti nenek Murah, yaitu mengumpulkan barang bekas. Pendapatan beliau sekitar 50.000 per bulan. Nenek Dasri menjual rongsokannya tiap bulan.
Jadi, ketika belum mendapatkan uang hasil rongsokannya, Nenek Dasri berhutang dulu kepada pembelinya. Saat sudah mendapatkan uang hasil rongsokannya, Nenek Dasri langsung melunasi utang-utangnya. Kadang-kadang tetangganya memberi makanan.
Akhirnya, atas simpati dari siswa-siswi SMP Negeri 1 Margasari memberikan uang dan beras kepada nenek Dasri, meskipun tidak seberapa banyak, tetapi sangat membantu untuk mencukupi kehidupan sehari-harinya.
Sebenarnya jika kita telusuri banyak sekali orang-orang seperti Nenek Murah dan nenek Dasri di belahan daerah yang bahkan lebih parah dari kondisi nenek Murah dan Nenek Dasri.
Kita sebagai umat manusia sudah seharusnya saling tolong-menolong sesama. Mungkin bagi kita itu adalah hal sepele, tetapi bagi mereka itu sangat membantu.
Allah SWT menciptakan manusia itu berbeda-beda, ada yang laki-laki dan ada yang perempuan, ada yang kaya dan ada yang miskin begitu pula dengan kondisi yang sedang dialami oleh nenek Murah. Karenanya, mari kitab tingkatkan kepedulian terhadap sesama.
Karena di atas langit, masih ada langit. (*)
Reporter: Intan Fajar Gemilang, Hasbi Aulia Faras, Bening Setara Wulan
Editor: Hanan Musyaffa