KEARIFAN LOKAL

Jatilawang, Legenda di Balik Pohon Jati di Tepian Tegal-Purwokerto

GERBANG – Pintu masuk menuju Dukuh Jatilawang Desa Jembayat Kecamatan Margasari Kabupaten Tegal tampak asri di tengah-tengah rimbunnya pohon jati. (foto: olivia aisyah)

ADA sebuah pedukuhan di Desa Jembayat Kecamatan Margasari Kabupaten Tegal yang memiliki nama unik, yaitu Dukuh Jatilawang. Namun, tahukah kalian ada misteri tersembunyi mengenai asal usul Dukuh Jatilawang lho?

Dahulu kala, ada pohon jati yang berbentuk seperti pintu atau dalam bahasa Jawa disebut lawang. Pada tahun 2012 pohon jati tersebut tersambar petir dari bawah, sehingga akar-akarnya menjadi kropos dan sudah ditumbuhi pohon bulu yang seperti beringin, lalu akar keropos atasnya menjadi berat.

Pada tahun 2013 pohon tersebut roboh, tetapi sisa kayunya masih ada, lalu dibuat prasasti pada tahun 2021 ini. Prasasti ini dibuat untuk generasi yang akan datang. Tujuannya agar mereka tahu bahwa ada pohon jati aneh yang bentuknya seperti lawang (pintu).

Dulu di tempat tersebut dijadikan tempat untuk sedekah bumi, maksudnya setiap bulan Muharam atau tahun baru Hijriyah. Setiap hari Sabtu dan Minggu ke-1 atau ke-2 diadakan syukuran yang dinamakan sedekah bumi.

Tiga atau tujuh hari sebelumnya, ada acara keliling desa yang dilakukan para sesepuh desa sambil membaca tahlil atau zikir dengan berjalan kaki untuk memohon kepada Tuhan agar masyarakatnya diberi keselamatan, kesehatan, dan juga rezeki.

Selain sarana untuk sedekah bumi, tempat itu juga kadang mengadakan pagelaran wayang kulit atau wayang golek dengan tujuan untuk melestarikan budaya. Tetapi seiring berjalannya waktu, generasi sekarang sudah banyak yang mengabaikannya.

Sebelum pohon jati roboh, dulu dirawat oleh seseorang yang biasanya dijuluki juru kunci. Tugasnya membersihkan lingkungan dan menerima tamu dari luar daerah. Juru kunci tersebut juga sering mendoakan beberapa keinginan orang yang memiliki tujuan tersendiri.

PRASASTI – Pohon jati yang menyerupai lawang, kini tersimpan di Monumen Jatilawang yang ada di Jatilawang, Jembayat, Margasari. (foto: olivia aisyah)

Selain pohon jati yang memiliki bentuk seperti lawang, ternyata ada hal menarik lain yang menjadi ciri khas Dukuh Jatilawang. Yaitu Bendungan Parakan Kidang.

Bendungan ini dibangun oleh warga Belanda pada tahun 1911, lalu pertama kali diperbaiki oleh PT Karangtempel dari Semarang pada tahun 1972. Perbaikan kedua pada tahun 2016, lalu perbaikan ketiga pada tahun 2018.

Bendungan ini mampu mengairi sawah di desa-desa yang ada di Kecamatan Margasari. Dulu di Parakan Kidang dan sekitarnya, terdapat hutan dan aliran sungai, sehingga kerap dijadikan tempat untuk berkembangbiaknya kijang.

Itulah mengapa kemudian bendungan itu dinamakan Parakan Kidang. Namun, saat ini kijang-kijang tersebut sudah mulai punah, karena habitatnya sudah tidak mendukung lagi serta banyaknya perburuan liar.

Bagaimana teman, setelah membaca asal usul Dukuh Jatilawang, apa yang bisa kita pelajari dari legenda ini? Ternyata sangat penting bagi kita untuk menjaga lingkungan dan melestarikan budaya kita agar tidak cepat punah ditelan kemajuan zaman. (*)

Reporter: Olivia Aisyah, Azulfa Tuzzahro

Editor: Hanan Musyaffa

Tinggalkan komentar