SASTRA

Aku dan Fisika

Foto: ilustrasi/farah ramadhani

Oleh: Farah Ramadhani Gunawan

ENTAH mengapa siang ini, matahari begitu terik memancarkan sinarnya. Aku, Alana Carroline yang sedang mengantre di kantin tiba-tiba melihat seseorang yang sangat aneh. Dia terus saja mengecoh kepada teman-temannya bahwa suatu saat nanti dia pasti akan menciptakan sebuah robot yang sangat keren tetapi, teman-temannya justru tidak percaya kepadanya. Dengan suara lantang dan beraninya, dia berkata di depan semua orang yang berada di kantin, bahwa dia akan membuat sebuah robot yang  membuat namanya menjadi terkenal.

“Eh kalian tau nggak, tadi di kantin ada orang yang aneh banget, masa dia bilang dia bakal nyiptain robot sih. Hahahaha… Dia gak tau apa kalo nyiptain robot itu ribet banget. Mana bisa siswa kaya dia mampu buat robot, ” ucap Andre teman sekelas ku. “Hah masa sih? Berani banget dia ngomong kaya gitu di depan semua orang,” kata Angga. Aku yang mendengar semua orang menertawainya, secara spontan mengatakan, “Heh maksud kalian apa sih menghina dia? Orang dia  yang berusaha, kok kalian yang ribet.” Seketika suasana kelas pun hening sejenak.

Bel pun berbunyi, tanda kelas sudah akan dimulai .

“Eh Lan, kok tumben banget sih kamu ngomong kaya gitu?” tanya Karina teman semejaku. “Ya gapapa, nggak kenapa tadi rasanya kesel, ada orang yang nertawain dia, ” jawabku. “Dia? Dia siapa sih?” tanya Karina. “Ah udahlah.Tuh gurunya udah dateng, ” jawabku spontan.

‘Kring… Kring… Kring’

Bel yang menandakan sekolah telah usai pun berbunyi. Aku dan teman sekelas pun beranjak siap-siap dan berdoa, lalu pulang.

“Eh, itu kan anak yang tadi di kantin, yang ngomongnya ga jelas ,” ucap seorang siswa yang berjalan di depanku. Tanpa pikir panjang aku pun langsung menghampiri orang yang buat keributan di kantin tadi.

“Halo kak. Kalo boleh tau, namanya siapa? Aku, Alana Carolline. Salam kenal, ” ucapku yang spontan mengarah kepada seorang laki-laki yg dibicarakan satu sekolah. “Namaku Rio Vernanda Putra. Tapi, kenapa kamu mau kenalan sama aku? ” ujarnya.

“Oh gak papa hehehe. Aku cuma pengin lebih mengenal Kakak aja. Btw kakak suka fisika ya?” tanyaku kepadanya. “Iya, aku emang suka banget sama fisika, ” jawabnya lembut kepadaku. Aku yang sudah banyak menyimpan pertanyaan untuknya dan bahkan belum meminta nomor nya dibuat harus bersabar karena jemputanya sudah menunggu di depan gerbang.

“Eh udah ada jemputan nih. Aku duluan ya, dadah,” ucap kak Rio dengan senyuman tipis yang membuat hatiku semakin penasaran kepadanya.

“Apakah kak Rio gak merasa sedih, karena dihina oleh satu sekolah?” Pertanyaan tersebut entah kenapa muncul di benakku. Tak lama kemudian, ojol yang kupesan datang dan akhirnya aku memilih untuk pulang daripada berpikiran gak jelas karena dia.

Sesampainya di rumah, aku kembali memikirkan dia. “Duh semoga besok bisa ketemu lagi, biar aku bisa minta nomor dia,” ucapku sambil memikirkannya.

Keesokan harinya aku melihat dia, dan secara tidak sadar kakiku melangkah menghampiri nya. “Kak, aku boleh minta nomor nya gak?” pintaku kepadanya. Seketika Rio langsung bertanya, “Untuk apa kamu minta nomor kakak?” Aku pun menjawab pertanyaanya, “Kakak kan suka fisika. Jadi, karena aku gak terlalu bisa fisika dan liat kakak yang optimis banget sama tujuan kakak buat bikin robot, aku jadi pengin lebih mengenal fisika dan barang kali bisa bantu Kaka meskipun sedikit sih, hehehe.” Akhirnya Rio pun memberikan nomornya kepada Alana.

Setelah beberapa Minggu kemudian, Alana dan Rio pun semakin akrab. Mereka bahkan sampai dijodoh-jodohkan oleh teman sekelas mereka.

‘Kring… Kring… Kring’

Bel sekolah berbunyi menandakan jam istirahat. Seluruh siswa berbondong-bondong meninggalkan kelas mereka. Ada yang menuju ke kantin, ada yang menuju ke perpustakaan, dll.

Saat perjalanan menuju ke kantin, Alana tak sengaja melihat Rio yang mengarah ke perpustakaan. ” Kak Riooo,” ucapku dengan sangat berani yang memanggil nama Rio dengan sangat kencang. Rio pun menoleh ke belakang, sambil berkata, “Oh Alana. Kenapa Lan? Ada yang bisa kakak bantu?”  Alana menjawab, “Kakak mau ke perpustakaan ya?” Rio pun menjawab, “Iya nih, kakak mau ke perpustakaan sekalian mau cari referensi tentang robot-robot.” Alana pun bertanya, ” Ikut boleh nggak Kak?” Rio pun mengiyakan permintaan Alana dan mereka pun pergi ke perpustakaan bersama.

Setelah beberapa hari kemudian, Rio berencana untuk membuat robot pertamanya. “Alana, Minggu nanti kamu sibuk gak?” tanya Rio kepada Alana. “Emm enggak tuh kak. Emangnya kenapa ya?” jawab Alana dengan kebingungan karena baru pertama kalinya Rio menanyakan pertanyaan seperti ini. “Kamu mau gak bantu kakak buat robot di rumah kakak?” tanya Rio sambil berharap Alana mengiyakan permintaanya itu. “Boleh kak,” jawab Alana. Seketika Rio pun langsung tersenyum dengan lebar sembari berterima kasih kepada Alana.

Hari Minggu pun tiba. Seperti janjinya, Alana membantu Rio membuat robot.

“Alana tolong kamu ambil itu dong,” ucap Rio sambil menunjuk sebuah sekrup yang terletak di atas meja. “Oke kak, siap, ” jawab Alana dengan ceria.

Tetapi sangat disayangkan, percobaan pertama mereka membuat robot gagal total hanya karena sebuah kesalahan saat merakit kabelnya.

“Yah gagal kan,” ucap Rio dengan nada sedih. “Gak papa kak, kan masih percobaan pertama, jadi wajar aja kalo gagal. Kita kan bisa buat lagi. Ayo semangat kak. Alana janji bakal bantuin Kakak kok,” ucap Alana sambil memberikan semangat kepada kakak kelasnya itu.

Setelah berhari-hari mereka memikirkan agar tidak terjadi kesalahan lagi saat membuat robot, mereka pun memutuskan untuk membuat ulang pada hari Minggu.

“Oke deh sip. Semoga ini benar dan kita berhasil membuatnya,” harap Rio. “Iya kak, semoga aja kita berhasil membuat robotnya ya, ” sahut Alana dengan nada ceria.

Hari Minggu yang mereka tunggu-tunggu akhirnya tiba. Kali ini mereka membuatnya dengan sangat teliti dan penuh konsentrasi agar tidak terjadi kesalahan seperti sebelumnya.

“Nah udah jadi nih Lan. Oke, mari kita coba semoga bisa gerak ya Lan,” harap Rio. Mereka pun mencoba robot yang baru mereka buat itu.

“Lan robotnya gerak nih,” ucap Rio spontan sambil tersenyum lebar. “Akhirnya kak, perjuangan kakak selama ini gak sia-sia dan kakak bisa buktiin sama semua orang kalo kakak akhirnya nyiptain robot, ” sahut Alana dengan eskpresi terharu.

Beberapa hari kemudian, sekolah memberi pengumuman bahwa akan diadakan sebuah kontes untuk memamerkan hasil karya siswa dan siswa yang akan mengikuti kompetisi itu diharapkan untuk mendaftarkan diri di Bu Oliv. Alana yang mendengar pengumuman itu pun langsung bergegas menuju kelas Rio untuk memberitahu kepadanya bahwa akan diadakan sebuah kompetisi hasil karya siswa. Rio yang baru mendengarnya pun menarik tangan Alana dan bergegas menuju Bu Oliv untuk mendaftarkan diri menjadi peserta kompetisi itu.

Akhirnya hari untuk kompetisi pun tiba. Semua peserta diharapkan untuk mendaftar ulang dan duduk di kursi yang sudah disiapkan panitia.

“Kak, kok Alana deg-degan ya,” ucap Alana. “Sama nih Lan, kakak juga deg-degan,” jawab Rio.

“Diharapkan untuk para peserta segera menduduki kursi masing-masing karena acara akan segera dimulai,” ucap panitia kompetisi tersebut.

Setelah beberapa peserta selesai mempresentasikan hasil karya mereka, tibalah saatnya Rio mempresentasikan hasil karyanya . Saat Rio melangkah menuju ke panggung, semua orang terheran-heran seolah tidak percaya bahwa itu adalah hasil karya Rio.

“Ini beneran nih hasil karya siswa SMP?” ucap seorang penonton. Namun, Rio terus melanjutkan presentasinya tanpa mempedulikan ucapan penonton itu.

Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Juri yang telah menilai semua hasil karya peserta akan segera mengumumkan pemenang kompetisi tersebut. Suasana pun menjadi hening seperti tidak ada kehidupan. Juri pun mulai membacakan pemenang kompetisi tersebut dari juara terakhir sampai juara pertama.

“Baik, sekarang juara pertama jatuh kepada, Rio dengan hasil karya robotnya yang super canggih. Mari kita berikan tepuk tangan untuk Rio,” ucap juri.

Semua orang bertepuk tangan untuk Rio. Rio dan Alana yang tidak percaya dan terharu pun secara tidak sadar meneteskan air mata.

“Untuk para pemenang harap menuju ke panggung untuk menerima penghargaan,” kata juri. Alana pun langsung menyuruh Rio mengusap air matanya dan segera menuju ke panggung. Juri pun memberikan penghargaan kepada para pemenang dan seluruh orang yang berada di sana bertepuk tangan dengan sangat meriah.

“Lan kakak gak mimpi kan? Ini kenyataan kan, Lan?” tanya Rio kepada Alana karena tidak percaya bahwa dirinya akan menjadi pemenang dalam kompetisi tersebut. “Iya kak. Kakak menang, robot kakak diakui oleh semua orang,” jawab Alana.

Tanpa pikir panjang Rio pun langsung memeluk Alana tanpa memperhatikan keadaan di sekeliling mereka.

“Makasih Lan. Pencapaian Kakak selama ini itu karena kamu yang udah support Kakak dan bantu kakak sampai di titik ini,” ucap Rio kepada Alana sambil mempererat pelukannya itu. “Iya kak sama-sama. Lagian ini semua kan usaha kakak sendiri , Alana cuma bantu sedikit kok hehehe,” jawab Alana. Setelah menerima penghargaan, mereka pun pulang ke rumah masing-masing.

Keesokan harinya, mereka jadi buah bibir di sekolah berkat pencapaiannya dalam kompetisi tersebut. Teman-teman Rio dan semua orang di sekolah yang awalnya menghina Rio pun meminta maaf kepadanya.

“Maaf ya Rio, waktu di kantin kita semua udah hina kamu,” ucap teman-teman Rio. Rio pun dengan besar hati memaafkan mereka dan hanya menganggap kejadian waktu itu sebagai sebuah candaan saja.

Beberapa bulan kemudian, hari kelulusan pun tiba yang menandakan semua siswa kelas 9 secara resmi lulus dari sekolah tersebut. Rio yang sedang mewakilkan seluruh siswa kelas 9 membacakan puisi dibuat kaget oleh suara tangisan seorang gadis. Seketika Rio pun berhenti dan berlari menuju Alana karena Rio sadar akan suara gadis tersebut. Semua orang yang berada di aula dibuat kebingungan oleh sikap Rio ini.

Saat Rio berlari mencari Alana, Rio bertemu Kirana dan dia memberi tahu Rio dimana posisi dan alasan kenapa Alana menangis. Rio yang sudah mengetahui posisi Alana kemudian berterima kasih kepada Kirana dan langsung berlari ke arah Alana. Di hadapan semua orang, Rio memeluk Alana sambil menenangkan adik kelas tersayang nya itu.

“Lan tenang Lan. Kakak cuma pergi dari sekolah ini doang kok, bukan hubungan kita. Jadi Alana harus tenang oke, ” ucap Rio dengan lembut. Alana yang mendengar perkataan Rio pun langsung menghentikan tangisannya karena sadar bahwa dia dan Rio sedang dilihat oleh semua orang.

“Iya kak Alana gak papa kok. Tuh lihat semuanya pada ngelihatin kita loh kak,” ujar Alana dengan pelan. Rio yang berhasil menenangkan Alana pun bergegas membawa Alana ke sebuah tempat dimana tidak ada seseorang pun disana.

“Lan kalo kakak punya salah sama kamu kakak minta maaf ya. Terus kalo kamu ada masalah ceritain semuanya ke kakak, kakak pasti bantu kok,” ucap Rio kepada Alana sambil memegang tangan adik kelasnya itu.

“Iya kak. Sekali lagi makasih ya kak karena kakak udah ada di samping Alana. Dan selamat hari kelulusan kak,” jawab Alana sambil tersenyum manis yang membuat Rio tersipu malu melihatnya. 

Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, acara kelulusan pun sudah hampir selesai. Semua siswa kelas sembilan berfoto bersama untuk dijadikan sebuah kenangan. Tidak ingin kesempatannya hilang, Rio mengajak Alana untuk berfoto bersama saat itu juga. Sampai akhirnya mereka pun tersenyum bahagia hingga acara tersebut selesai. (*)

Vas Bungaku, Kreativitasku

Oleh: Firda Tri Rakhmawati

Virus corona yang melanda

tak menyurutkan semangatku

Vas Bungaku…

Kau adalah hasil kreativitasku

yang terbuat dari kayu

Vas Bungaku…

Bentuk mu indah nan berseri

seakan tersenyum padaku

Menarik mataku

untuk terus memandangimu

Oh Vas Bungaku…

Sungguh cantik warnamu

Tempelan bunga

menambah elok rupamu

Tak kan pernah ku berpaling

dari keindahan bentukmu

Vas Bungaku…

Kau adalah penghias dinding rumahku

penghias dinding ruang tamu

Kan ku jaga

sampai akhir hayatku

Kan ku rawat

sampai akhir hidupku

Vas Bungaku…

Kau tak kan pernah tergantikan

Tak kan hilang dari memoriku

Vas Bungaku…

Aku sangat menyayangimu

Terimakasih vas Bungaku

Kau sudah mengisi kekosongan ruang tamuku

Tinggalkan komentar