OPINI

Bangkitkan Kreativitas dan Semangat Belajar di Masa Pandemi

ONLINE – Siswa-siswi kelas 8I sedang melakukan kegiatan pembelajaran jarak jauh (PJJ) di rumah salah seorang siswa, Sabtu (25/9). (Foto: nesya zahra asidha)

SAAT ini, dunia sedang menghadapi pandemi Covid-19, yang belum bisa diprediksi kapan berakhir. Negara kita termasuk salah satu negara yang mempunyai jumlah kasus aktif terbanyak, bahkan pernah menduduki peringkat ke-4 pada Agustus lalu.

Akibatnya banyak sekali sektor yang terimbas, salah satunya pendidikan. Setahun lebih, siswa-siswi sekolah dari semua jenjang dan perguruan tinggi harus mengubah tata cara pembelajarannya.

Sekolah terpaksa melakukan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) yaitu daring atau sistem pembelajaran tidak bertatap muka secara langsung antara guru dan siswa, tetapi dilakukan secara online menggunakan jaringan internet.

Ini menjadi sebuah media pembelajaran baru. Semua perangkat pendidikan harus beradaptasi menyiapkan sarananya, seperti handphone, laptop, dan peralatan lainnya.

Untuk kelancaran prosesnya, baik guru maupun siswa membutuhkan kuota internet. Nah, ternyata PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) pun menyisakan persoalan yang tak kalah rumit.

Anak-anak yang belajar di rumah masing-masing, lama-kelamaan bosan dan jenuh. Kondisi ini menuntut peranan orang tua sebagai pengganti guru, yang tidak hanya mengajari materi ajar atau pelajarannya, tetapi juga menjadi pengawas supaya proses PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) bisa berlangsung sesuai rencana. Dan paling penting lagi, menjaga mood anak-anaknya biar tidak jenuh serta selalu bersemangat belajar.

Karena jika tidak bisa pintar menjaga mood anak-anak, kejenuhan yang menimpa mereka bisa berdampak fatal. Sarana PJJ yang diberikan nantinya hanya dimanfaatkan untuk main bersama (mabar, Red.) game online ataupun medsos (media sosial) yang beraneka macam jenisnya saat ini.

Untuk mengurangi kejenuhan anak-anak, orang tua tak ada salahnya mengarahkan waktu luang mereka untuk mencari kesibukan yang bermanfaat. Misalnya bercocok tanam, memasak menu-menu baru, atau membuat kerajinan seperti gantungan kunci, hiasan pintu, dan jendela serta yang lainnya.

Yang terpenting, rutinitas di antara jeda belajar anak-anak tetap diisi dengan kegiatan-kegiatan yang mengedukasi dan menumbuhkembangkan kreativitas dan semangat belajarnya. Memang tidak mudah, tetapi harus selalu dicoba.

Perihal membangkitkan semangat belajar, cobalah mulai lakukan dengan mengharuskan anak-anak meningkatkan ketekunannya dalam belajar. Tak kalah pentingnya membiasakan kemandirian saat belajar dan melatih keuletan ketika menghadapi kesulitan pembelajaran.

Dampingi anak-anak agar mereka tetap merasakan layaknya belajar bersama gurunya di sekolah. Kenalkan juga penyelesaian materi pembelajaran, dengan menggunakan sarana-sarana pembelajaran digital seperti searching di google atau berdiskusi dengan orang-orang sekitarnya.

Utamanya keluarga inti seperti ayah, ibu, kakak, dan adik, serta saudara-saudara lainnya. Otomatis ini akan semakin menambah keakraban dan jalinan kekeluargaan yang bisa membangkitkan pula semangat belajar si anak di rumah.

Pandemi yang entah kapan akan berakhir, jangan sampai membuat anak-anak hanya bermalas-malasan, tidak memanfaatkan waktunya sebaik mungkin, serta turun semangat belajarnya. Jangan sampai anak-anak hanya bermain handphone, akibatnya tugas sekolahnya pun lupa dikerjakan.

Jadi, saat anak-anak kembali melakukan PTM (Pembelajaran Tatap Muka) meski terbatas, mereka tetap bisa mengikutinya dengan baik. Jangan lupa selalu patuhi prokes (protokol kesehatan) selama PTM (Pembelajaran Tatap Muka), jadikan hari ini lebih baik daripada hari kemarin. (*)

Reporter: Nesya Zahra Asidha, Sigit Ilmiawan

Editor: Hanan Musyaffa

Tinggalkan komentar