Diposkan pada PROFIL

Mengenal Lebih Dekat dengan Sang Motivator

BEKERJA sebagai pendidik adalah pengabdian tanpa batas. Itu pulalah yang melatarbelakangi tekad Agus Budiyanto untuk memilih menjadi guru sebagai profesinya.

Bukan tanpa alasan, Agus Budiyanto memilih untuk mengabdikan separuh hidupnya hingga saat ini untuk mengajar. Pria lulusan Universitas Terbuka Jakarta itu tahu betul untuk memutuskan menjadi guru bukan perkara mudah. Namun, karena tekadnya yang begitu kuat akhirnya beliau menjadi guru pada tahun 1984.

Pria kelahiran 1 Agustus 1962 ini merupakan anak pertama dari lima bersaudara. Dia sekarang tinggal bersama istrinya, di Desa Pakulaut RT 02 RW 05, Kecamatan Margasari, Kabupaten Tegal. Istri Agus Budiyanto bernama Tati Subagianti, dia adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka dikaruniai empat anak. Anak sulung mereka pernah kuliah di UNNES (Universitas Negeri Semarang) dan sudah bekerja. Anak kedua di D3 Dinas Kesehatan Poltekkes jurusan analis kesehatan, yang ketiga kuliah di UAD (Universitas Ahmad Dahlan) dan sudah lulus, lalu mengikuti jejak ayahnya menjadi seorang guru di SMP Muhammadiyah, dan anak bungsu mereka masih menggeluti kursi sekolahnya di pondok pesantren Yogyakarta.

Perjalanan karier Agus Budiyanto sangat menarik. Dia sudah mengajar di SMP Negeri 1 Margasari selama 37 tahun, dari tahun 1984 sampai sekarang. Dia memulai kariernya dengan menjadi guru biasa. Pada tahun 1998 menjadi guru inti Kabupaten Tegal sampai tahun 2005. Tahun 2010 meraih juara 1 guru berprestasi atau guru teladan tingkat Kabupaten Tegal. Tahun 2014 pernah menjadi juara 1 pembina upacara tingkat karisidenan Pekalongan yang tempatnya di Pemalang. Tahun 2015 pernah menjadi pembina upacara terbaik tingkat Kabupaten Tegal. Tahun 2016/2017 pernah mengikuti seleksi kepala sekolah dan lolos di tingkat kabupaten dan seleksi di tingkat nasional tidak lolos, sehingga menjadi guru biasa.

Menurut Agus Budiyanto suka duka selama mengajar di SMP Negeri 1 Margasari itu lebih banyak  sukanya, karena anak-anaknya yang baik dan rajin. Dukanya, ketika ada  beberapa anak yang bandel tidak mengerjakan tugas dan melanggar aturan. Namun, Agus Budiyanto sangat menikmati profesinya menjadi seorang guru.

Pesan dari Agus Budiyanto untuk  siswa-siswi SMP Negeri 1 Margasari yaitu untuk tetap semangat belajar di mana pun dan kapanpun, bukan hanya ketika di sekolah saja, tetapi ketika di luar sekolah juga, misalnya di rumah, kita pun harus semangat belajar sesuai dengan apa yang diajarkan di sekolah serta, harus rajin mengerjakan tugas yang diberikan oleh bapak/ibu guru , menghormati guru, orang tua, dan orang lain. Agar ilmu yang kita dapatkan menjadi berkah.

Harapan Agus Budiyanto untuk SMP Negeri 1 Margasari supaya lebih maju dan lebih berprestasi, serta mempertahankan, dan meningkatkan kelebihan SMPN 1 Margasari sebagai SSN (Sekolah Standar Nasional). (*)

Reporter: Bening Setara Wulan, Firda Tri Rakhmawati

Editor: Intan Fajar Gemilang

Diposkan pada BERITA SEKOLAH

Kreativitas Siswa Tak Terganggu, Meski Ekstrakurikuler Seni Tari Terhenti Selama Pandemi

PANDEMI bukanlah penghalang untuk menghasilkan sebuah karya. Salah satunya melalui seni tari. Banyak sekali siswa-siswi SMP Negeri 1 Margasari yang mempunyai bakat di bidang tari. Upaya untuk mengembangkan bakatnya yaitu dengan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler seni tari di sekolah.  

Sebelum adanya pandemi covid-19, kegiatan ekstrakurikuler di SMP Negeri 1 Margasari dilaksanakan setiap hari Selasa setelah KBM (kegiatan belajar mengajar) dari pukul 14.00-16.00 di ruang multimedia. Ekstrakurikuler seni tari dapat dilakukan di mana pun asalkan ruangan tersebut kosong dan tidak membatasi gerakan, dapat juga di lapangan jika diperlukan praktik. Namun, dengan adanya pandemi covid-19 semua kegiatan ekstrakurikuler di SMP Negeri 1 Margasari terhenti, termasuk kegiatan ekstrakurikuler seni tari.

“Kalau diizinkan oleh sekolah, dinas, dan tingkat yang lebih tinggi, ekstrakurikuler seni tari akan berjalan kembali semester genap, ” kata pak Arief, saat diwawancarai Rabu(8/9). Pak Arief juga mengatakan bahwa tujuan di adakannya ekstra tari adalah meningkatkan kreativitas siswa-siswi dalam bidang seni tari dan bisa mendalami seni tari ketingkat yang lebih tinggi.

Seni tari di SMP Negeri 1 Margasari banyak memiliki prestasi, di antaranya pada tahun 2018 siswa-siswi SMP Negeri 1 Margasari pernah meraih juara 1 tari dalam kegiatan Jambore cabang Kabupaten Tegal, juara 2 FLS2N, menjuarai lomba cipta karya tari tingkat Kabupaten Tegal, dan akhirnya mewakili Kabupaten Tegal dalam menampilkan tariannya di Solo.

Salah satu bentuk kreativitas siswa dalam seni tari yaitu bisa mengeksplorasi gerak yang diwujudkan dalam gerak tari. Pak Arief mengatakan bahwa seni tari dapat dijadikan sebuah karya karena di dalam seni tari itu sendiri terdapat nilai estetika, yang artinya nilai keindahan. Setiap nilai keindahan mempunyai poin-poin tertentu yang dituangkan ke dalam sebuah tari.

Membangkitkan kreativitas siswa-siswi dalam seni tari bisa dilakukan dengan berbagai alternatif. Misalnya olah tubuh yang merupakan dasar memancing siswa-siswi untuk berkreasi. Cara menarik simpati siswa-siswi supaya tertarik dengan ekstrakurikuler tari yaitu menampilkan hasil dari pembelajaran ekstrakurikuler seni tari yang berupa tarian di depan siswa-siswi, supaya berminat mengikuti ekstrakurikuler seni tari. Pak Arief berkesimpulan bahwa, berkarya melalui gerakan tari bisa dilakukan di mana pun, dengan siapa pun, dan kapan pun.

Pentingnya seni tari tidak hanya untuk lomba atau kompetisi, tetapi juga dapat mengaktifkan kreativitas siswa-siswi dalam bidang tari, dapat juga mewujudkan mimpi siswa-siswi yang berkeinginan mengikuti lomba seni tari. Ekstrakurikuler seni tari juga penting untuk melestarikan budaya berupa tarian agar tidak mudah ditelan zaman.

Ekstrakurikuler dalam suatu sekolah itu sangat penting karena dapat mengembangkan bakat siswa-siswi di segala bidang yang diinginkan masing-masing. Ekstrakurikuler seni tari juga penting untuk mengembangkan bakat siswa-siswi yang beminat dalam seni tari. Seni tari juga dapat melatih kepercayaan diri siswa-siswi untuk tampil di hadapan orang banyak. Jika di sekolah tidak terdapat ekstrakurikuler seni tari, siswa-siswi yang mempunyai bakat dalam bidang seni tari tidak bisa berkembang dalam lingkungan sekolah.

Jika di sekolah tidak terdapat ekstrakurikuler seni tari, siswa-siswi yang mempunyai bakat dalam bidang seni tari tidak bisa berkembang dalam lingkungan sekolah. Selain itu, siswa-siswi juga akan kehilangan kesempatan untuk menunjukan potensi mereka. Seni tari juga dapat melatih kepercayaan diri siswa-siswi untuk tampil di hadapan orang banyak.

Pesan dari pak Arief untuk kegiatan ekstrakurikuler seni tari yaitu siswa-siswi agar lebih konsisten dan lebih semangat dalam mengikuti kegiatan ini untuk meningkatkan prestasi siswa-siswi di bidang tari. Selain pesan, ada juga harapan dari pak Arief untuk ekstrakurikuler seni tari agar lebih maju dan berkembang. (*)

Reporter: Hanan Musyaffa, Davina Septiani, Aisya Ayurizka Kurnia Putri 

Editor: Hanan Musyaffa

Diposkan pada TIPS

Stop! Penggunaan Masker Scuba

BELUM usainya tanda-tanda penyebaran Covid-19, menuntut kita untuk tetap menerapkan prokes (protokol kesehatan) yang ketat. Salah satunya adalah penggunaan masker yang bisa mencegah terjadinya penularan virus yang mematikan ini.

Apalagi saat ini sekolah-sekolah di Kabupaten Tegal sudah mulai melakukan PTM (Pembelajaran Tatap Muka) terbatas. Seperti yang tampak di SMPN 1 Margasari, Senin (19/9), semua siswa, guru, maupun warga sekolah lainnya diwajibkan mengenakan masker.

Masker dibentuk berupa-rupa macam bertujuan untuk menarik perhatian para konsumen, supaya para konsumen tidak bosan akan bentuk masker yang itu-itu saja. Namun, kembali ke semula, kita harus menjaga kesehatan diri sendiri supaya terhindar dari virus corona ini.

Soal masker, ternyata masih banyak di antara siswa yang belum tahu persis kegunaannya. Padahal saat ini sudah banyak dijumpai berbagai masker yang dijual bebas, seperti masker medis, masker kain, masker scuba, dan lain-lain.

Nah, tahukah kamu jenis masker scuba?

Masker scuba adalah masker yang terbuat dari kain neoprene. Masker scuba ini banyak digunakan oleh masyarakat lantaran tidak membuat sesak saat bernapas walaupun memakai masker scuba. Selain bermotif menarik, harga satu masker scuba ramah di kantong. Padahal masker scuba ini tidak efektif untuk mencegah penularan corona di saat ini.

Lalu masker scuba hanya memiliki 5% perlindungan yang artinya tidak efektif untuk digunakan, apalagi kain yang berjenis bahan tipis dan hanya memiliki satu lapisan, yang tidak disarankan untuk digunakan menangkal penularan virus corona.

Penyebaran covid-19 ini memungkinkan banyaknya masker yang diperjual-belikan dengan harga yang murah, masyarakat belum mengerti bahwa virus ini adalah virus mematikan. Di stasiun televisi pun pernah ditayangkan bahwa penggunaan masker scuba ini sudah tidak boleh dipergunakan lagi.

Namun, masih saja ada banyak pedagang yang menjual masker ini karena zaman seperti saat ini yang sangat dibutuhkan hanyalah masker, mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan masker yang sedang trend tanpa mempedulikan kesehatan dirinya sendiri. Terlepas dari masker scuba, kita tidak boleh lupa untuk menjaga jarak sekitar satu meter.

Para tenaga medis menyarankan kepada masyarakat untuk mengganti masker scuba ke masker bedah ataupun masker kain. Walaupun masker scuba dan masker kain bisa dicuci dan dipakai ulang. Namun, masker kain lebih efektif dikarenakan masker ini berlapis dua, sedangkan scuba hanya berlapis satu.

Selain itu, masker scuba dan masker kain sama-sama bisa menyerap keringat, tetapi jika masker sudah terserap oleh keringat itu tidak dapat digunakan kembali. Harus diganti  dengan yang bersih. Selain itu, masker basah bisa menyebabkan gangguan pernafasan.

Alangkah lebih baik jika mendouble masker supaya lebih aman untuk melindungi dari virus corona. Bagaimana cara mendouble masker?

Nah, untuk mendouble masker, dibutuhkan dua buah masker yaitu masker medis dan masker kain, cara penggunaannya pun lumayan simpel, pertama kita memakai masker medis, lalu disusul dengan masker kain, berbeda lagi jika kita sudah menggunakan KN95, masker ini dianggap cukup efektif dan tidak perlu untuk mendoublenya lagi karena memiliki lapisan yang cukup tebal.

Apakah ada tempat yang benar-benar mewajibkan untuk mendouble masker?

Tentu ada, Jika ingin mendouble masker, kita harus melihat keadaan di lingkungan sekitar, jika berada di rumah sakit, puskesmas, dan tempat pelaksanaan kesehatan lainnya diharapkan kita mendouble masker. Mengapa demikian? Karena pusat-pusat tersebut menampung banyak orang yang sakit. Sehingga satu masker saja belum tentu aman. Manfaat mendouble masker ini kemungkinan terpapar virus coronanya lebih kecil dan mengurangi angka kematian.

Jadi, pemerintah menegaskan seluruh masyarakat untuk memakai masker medis di lapisan dalam dan luar dengan tujuan mencegah penularan covid-19. (*)

Reporter: Dyah Nur Maulida, Andin Luthfia Nabila, Dewi Padmi Listiani

Editor: Farah Ramadhani Gunawan

Diposkan pada KEARIFAN LOKAL

Jatilawang, Legenda di Balik Pohon Jati di Tepian Tegal-Purwokerto

ADA sebuah pedukuhan di Desa Jembayat Kecamatan Margasari Kabupaten Tegal yang memiliki nama unik, yaitu Dukuh Jatilawang. Namun, tahukah kalian ada misteri tersembunyi mengenai asal usul Dukuh Jatilawang lho?

Dahulu kala, ada pohon jati yang berbentuk seperti pintu atau dalam bahasa Jawa disebut lawang. Pada tahun 2012 pohon jati tersebut tersambar petir dari bawah, sehingga akar-akarnya menjadi kropos dan sudah ditumbuhi pohon bulu yang seperti beringin, lalu akar keropos atasnya menjadi berat.

Pada tahun 2013 pohon tersebut roboh, tetapi sisa kayunya masih ada, lalu dibuat prasasti pada tahun 2021 ini. Prasasti ini dibuat untuk generasi yang akan datang. Tujuannya agar mereka tahu bahwa ada pohon jati aneh yang bentuknya seperti lawang (pintu).

Dulu di tempat tersebut dijadikan tempat untuk sedekah bumi, maksudnya setiap bulan Muharam atau tahun baru Hijriyah. Setiap hari Sabtu dan Minggu ke-1 atau ke-2 diadakan syukuran yang dinamakan sedekah bumi.

Tiga atau tujuh hari sebelumnya, ada acara keliling desa yang dilakukan para sesepuh desa sambil membaca tahlil atau zikir dengan berjalan kaki untuk memohon kepada Tuhan agar masyarakatnya diberi keselamatan, kesehatan, dan juga rezeki.

Selain sarana untuk sedekah bumi, tempat itu juga kadang mengadakan pagelaran wayang kulit atau wayang golek dengan tujuan untuk melestarikan budaya. Tetapi seiring berjalannya waktu, generasi sekarang sudah banyak yang mengabaikannya.

Sebelum pohon jati roboh, dulu dirawat oleh seseorang yang biasanya dijuluki juru kunci. Tugasnya membersihkan lingkungan dan menerima tamu dari luar daerah. Juru kunci tersebut juga sering mendoakan beberapa keinginan orang yang memiliki tujuan tersendiri.

Selain pohon jati yang memiliki bentuk seperti lawang, ternyata ada hal menarik lain yang menjadi ciri khas Dukuh Jatilawang. Yaitu Bendungan Parakan Kidang.

Bendungan ini dibangun oleh warga Belanda pada tahun 1911, lalu pertama kali diperbaiki oleh PT Karangtempel dari Semarang pada tahun 1972. Perbaikan kedua pada tahun 2016, lalu perbaikan ketiga pada tahun 2018.

Bendungan ini mampu mengairi sawah di desa-desa yang ada di Kecamatan Margasari. Dulu di Parakan Kidang dan sekitarnya, terdapat hutan dan aliran sungai, sehingga kerap dijadikan tempat untuk berkembangbiaknya kijang.

Itulah mengapa kemudian bendungan itu dinamakan Parakan Kidang. Namun, saat ini kijang-kijang tersebut sudah mulai punah, karena habitatnya sudah tidak mendukung lagi serta banyaknya perburuan liar.

Bagaimana teman, setelah membaca asal usul Dukuh Jatilawang, apa yang bisa kita pelajari dari legenda ini? Ternyata sangat penting bagi kita untuk menjaga lingkungan dan melestarikan budaya kita agar tidak cepat punah ditelan kemajuan zaman. (*)

Reporter: Olivia Aisyah, Azulfa Tuzzahro

Editor: Hanan Musyaffa

Diposkan pada PENELITIAN SEDERHANA

Keren, Siswa SMP Negeri 1 Margasari Daur Ulang Sampah Plastik Menjadi Minyak Tanah

PIROLISIS – Salah seorang siswa SMPN 1 Margasari sedang melakukan pirolisis yakni pemisahan senyawa kimia melalui pemanasan suhu tinggi menggunakan wadah bekas, Rabu (22/9) lalu. (foto: farah ramadani)

BICARA tentang sampah, tidak ada seorang pun di dunia yang menyukainya. Namun, dalam hidup, kita tidak akan pernah lepas dari sampah.

Manusia adalah makhluk penyumbang sampah terbesar di dunia. Berdasarkan penelitian, Indonesia menyumbang sampah 4,8 juta per tahunnya.

Sampah merupakan sisa-sisa pembuangan dari limbah rumah tangga, industri, dan sebagainya. Sampah plastik misalnya, kebanyakan berasal dari sisa limbah rumah tangga. Ironisnya, sampah plastik sangat susah terurai, bahkan sampai ratusan tahun secara alamiah tidak akan terurai sempurna.

Namun, sebenarnya sampah plastik bisa dimanfaatkan untuk membuat BBM melalui proses pirolisis. Pirolisis adalah proses pemisahan senyawa kimia melalui pemanasan suhu tinggi.

Setelah membaca beberapa referensi tentang pirolisis, beberapa siswa SMP Negeri 1 Margasari merasa tergelitik untuk melakukan percobaan sederhana. Yakni mengubah sampah plastik menjadi BBM.

Kegiatan ini dilakukan di tengah kejenuhan menjalani Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang entah kapan akan berakhir. Percobaan pertama ini dilakukan, Rabu (22/9), di bawah bimbingan guru pembimbing penelitian sains, Agus Umar Hakim,.

“Percobaan ini dilakukan untuk  membuktikan teori pirolisis, ” ujar Pak Agus Umar, yang juga guru bahasa indonesia.

Agus Umar mengatakan teori pirolisis adalah proses pemisahan senyawa kimia atau dekomposisi senyawa kimia melalui pemanasan suhu tinggi/pembakaran dalam ruang tertutup. Adapun teori yang digunakan dalam percobaan ini adalah teori pirolisis, destilasi, pengembunan, dan penyubliman.

Lebih jauh, Agus mengatakan, jika percobaan ini diltindaklanjuti dalam skala pekerjaan yang lebih luas lagi, maka akan dapat menjawab persoalan perlik sampah plastik di sekitar kita.

Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk melalukan percobaan ini, yaitu sampah plastik kering, kaleng bekas, pipa kecil, selang plastik kecil, lem, amplas, dan cutter. Langkah-langkahnya, yaitu beri lubang pada kaleng bekas sesuai diameter selang, amplas lubang yang sudah dibuat, lalu masukkan pipa ke lubang tadi.

Sambungkan selang pada pipa kecil tadi, beri lem di sekeliling kaleng yang sudah dipasangi pipa dan tunggu sampai lem mengering sekitar 10 menit. Sambil menunggu lem kering, carilah sampah plastik yang sudah kering, kemudian masukkan sampah-sampah ke dalam kaleng sampai penuh.

Jika sudah penuh, tutup kaleng sampai rapat, kemudian letakkan kaleng di atas kompor, tunggu plastik hingga meleleh sekitar 10 menit. Dalam percobaan kali ini, kami mengalami sedikit kendala karena ternyata selang yang digunakan juga ikut meleleh saat proses pemanasan.

“Hal ini dikarenakan antara sambungan pipa dan selang plastik tidak diberi pendingin,” terang Agus Umar.

Percobaan daur ulang sampah plastik yang diinisiasi siswa siswi SMP Negeri 1 Margasari mendapat dukungan Kepala SMP Negari 1 Margasari, Nur Salim. Dia memberi saran agar setiap kelas bisa mendukung kegiatan ini, dengan cara memisahkan sampah organik dan sampah anorganik.

Sampah organik bisa dimanfaatkan untuk membuat pupuk kompos, sementara sampah anorganik dapat dimanfaatkan untuk membuat bahan bakar minyak (BBM). Nur Salim menambahkan apabila kegiatan ini dilakukan secara sungguh-sungguh, tidak mustahil sekolah akan menjadi percontohan bagi sekolah-sekolah lainnya. (*)

Reporter: Firda Tri Rakhmawati, Farah Ramadhani Gunawan

Editor: Intan Fajar Gemilang

Diposkan pada BERITA UTAMA

Sambangi Nenek Murah, Siswa SMPN 1 Margasari Didoakan Sukses dan Pintar

ONLINE – Siswi SMP Negeri 1 Margasari sedang memberikan bantuan sosial (bansos) kepada Nenek Murah, Kamis (16/9). (Foto: bening setara)

VIRALNYA kondisi nenek Murah (80), warga Desa Jatilaba RT 01/RW 10 Kecamatan Margasari Kabupaten Tegal mengundang simpati dan keprihatinan berbagai pihak. Itu pulalah yang menggugah simpati dan keprihatanan OSIS SMPN 1 Margasari bersama Jurnalistik Spensama, saat memberikan bantuan uang dan sembako, Kamis (16/9) lalu.

Nenek Murah yang sebatangkara, memang menyita perhatian bagi siapa saja yang mendengar maupun yang membaca kehidupan kesehariannya melalui berita-berita online atau medsos (media sosial). Di usianya yang sudah senja, Nenek Murah harus menjalani hidupnya seorang diri, tak terkecuali untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Untuk makan, Nenek Murah hanya mengandalkan hasil dari dia mencari barang bekas yang tidak seberapa jumlahnya. Dengan sisa-sisa kekuatan tenaganya, Nenek Murah hanya dapat mengumpulkan sejumlah plastik bekas minuman mineral serta kertas kardus yang tidak seberapa jumlahnya.

Jika dirupiahkan sekitar Rp1.500 penghasilan Nenek Murah dari hasil mengumpulkan barang bekas. Dulu saat tenaganya masih mampu, nenek Murah sempat berjalan cilok. Namun, modal dia berjualan semakin hari kian menipis bahkan habis, sehingga nenek Murah terpaksa menyambung hidupnya dengan mencari barang bekas.

Nenek Murah tinggal di rumah yang dikategorikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Itu sudah pasti menguras air mata. Bagaimana tidak, di rumahnya sama sekali tidak ada penerangan yang memadai. “Gentenge wis pada bocor, bolong, ger udan, banyune ora mung netes tapi gemrawah saambane umah (atapnya sudah pada bocor, kalau hujan, airnya tidak hanya menetes tapi melimpah ke semua sudut rumah, Red.),” kata nenek Murah.

Ketika hujan tengah malam, saat orang lain lelap tidur, nenek Murah kelimpungan mencari wadah sebagai tempat sekadar menampung air hujan yang tidak seluruhnya tertampung lantaran tingkat kebocoran hampir merata di dalam rumahnya. Ia hanya bisa bersabar dan bertawakal menjalani hidupnya.

Kami sempat mendengar isu bahwa Nenek Murah tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah. Namun, setelah kami klarifikasi kepada Jumadi, Kepala Desa Jatilaba, ternyata ada alasan mendasar hingga nenek Murah tidak pernah mendapat bantuan.

“Pihak desa sudah mengajukan ke Pemerintah Pusat. Namun, karena adanya beberapa kendala seperti NIK (Nomor Induk Kependudukan) yang bermasalah serta tidak memiliki KK (Kartu Keluarga), akhirnya tidak bisa diproses oleh pemerintah sehingga tidak mendapatkan bantuan. Apalagi rumah yang dihuni oleh nenek Murah bukan milik sendiri melainkan milik saudara,” ujarnya.

Mungkin banyak yang belum mengetahuinya, tetapi nenek Murah sudah pernah menikah dengan laki-laki asal Kuningan. Namun, pernikahan itu hanya bertahan selama lebih kurang dua tahun.

Nenek Murah diceraikan oleh suaminya, karena tidak bisa memberikan keturunan selama masa pernikahannya tersebut. Sejak saat itu, Nenek Murah ditinggalkan suaminya yang kembali ke Kuningan dan Nenek Murah memutuskan untuk tidak menikah lagi.

Sebenarnya, nenek Murah mempunyai beberapa saudara yang hidup cukup mampu. Namun, kurangnya tingkat kepedulian membuat Nenek Murah seperti hidup sebatang kara.

Setelah viralnya nenek Murah banyak pihak yang merasa empati terhadap kondisi Nenek Murah, akhirnya banyak pihak yang memberikan bantuan entah itu dalam bentuk uang, sembako, dan lain-lain. Donasi untuk Nenek Murah beserta para lansia yang membutuhkan sudah kurang lebih Rp140 juta.

Tak jauh dari rumah Nenek Murah, ada seorang nenek bernama Nenek Dasri yang kondisinya lebih memprihatinkan. Nenek Dasri sama sekali tidak memiliki saudara. Atas dasar empati warga sekitar, akhirnya dibangun rumah satu petak di atas tanah warga yang dermawan.

Keseharian Nenek Dasri sama seperti nenek Murah, yaitu mengumpulkan barang bekas. Pendapatan beliau sekitar 50.000 per bulan. Nenek Dasri menjual rongsokannya tiap bulan.

Jadi, ketika belum mendapatkan uang hasil rongsokannya, Nenek Dasri berhutang dulu kepada pembelinya. Saat sudah mendapatkan uang hasil rongsokannya, Nenek Dasri langsung melunasi utang-utangnya. Kadang-kadang tetangganya memberi makanan.

Akhirnya, atas simpati dari siswa-siswi SMP Negeri 1 Margasari memberikan uang dan beras kepada nenek Dasri, meskipun tidak seberapa banyak, tetapi sangat membantu untuk mencukupi kehidupan sehari-harinya.

Sebenarnya jika kita telusuri banyak sekali orang-orang seperti Nenek Murah dan nenek Dasri di belahan daerah yang bahkan lebih parah dari kondisi nenek Murah dan Nenek Dasri.

Kita sebagai umat manusia sudah seharusnya saling tolong-menolong sesama. Mungkin bagi kita itu adalah hal sepele, tetapi bagi mereka itu sangat membantu.

Allah SWT menciptakan manusia itu berbeda-beda, ada yang laki-laki dan ada yang perempuan, ada yang kaya dan ada yang miskin begitu pula dengan kondisi yang sedang dialami oleh nenek Murah. Karenanya, mari kitab tingkatkan kepedulian terhadap sesama.

Karena di atas langit, masih ada langit. (*)

Reporter: Intan Fajar Gemilang, Hasbi Aulia Faras, Bening Setara Wulan

Editor: Hanan Musyaffa