Diposkan pada RESENSI BUKU

Resensi Buku Hafalan Shalat Delisa

  1. Identitas buku meliputi:
    Judul : Hafalan Shalat Delisa
    Pengarang : Tere Liye
    Tebal Buku : 248 halaman
    Penerbit : Republika
    Cetakan : VI, Januari 2008
  2. Sinopsis

Menceritakan anak bernama Delisa, seorang anak yang berdomisili di Aceh tepatnya di Lhok Nga. Delisa adalah anak dari Usman dan Salamah, Ia memiliki seorang kakak bernama Cut Fatimah, Cut Zahra, dan Cut Aisyah. Suatu hari Delisa mendapatkan tugas dari Ibu Guru Nur, untuk menghafalkan bacaan shalat yang akan disetorkan pada hari Minggu, 26 Desember 2004.

Untuk mendorong minat menghafal Delisa, ummi dan abi Delisa telah menyiapkan hadiah untuknya. Salamah menyiapkan sebuah kalung emas berliontin huruf D sedangkan Usman, Abi Delisa menjanjikan sepeda untuknya. Delisa sangat senang dengan janji kedua orang tuanya.
Setiap hari Delisa berusaha untuk menghafal bacaan shalatnya. Namun hasilnya nihil sekeras apapun ia berusaha menghafal, namun bacaan shalat tersebut tak kunjung masuk ke dalam pikiran Delisa

Pagi itu, Minggu tanggal 24 Desember 2004, Delisa sedang mempraktikkan hafalannya di depan kelas. Tiba-tiba datang gempa berkekuatan sangat besar sampai menimbulkan gelombang Tsunami melanda bumi Aceh. Semua orang lari terbirit-birit, kecemasan, keriuhan terdengar keras pada waktu itu. Namun Delisa tetap melanjutkan hafalan shalatnya tanpa memperdulikan air yang mulai masuk ke ruangan Delisa saat shalat, hingga pada waktu sujud, Delisa terhempas oleh gelombang Tsunami. Tempat yang dianggapnya sebagai rumah telah hancur lebur hanya ada satu bangunan yang masih utuh yaitu Masjid Baiturrakhim.

Delisa terdampar, ia sempat tersadar dan melihat temannya bernama Tiur dengan sepeda yang sudah tidak bernyawa lagi. Lalu Delisa diselamatkan oleh seorang prajurit asing bernama Smith Adam. Sudah 6 hari ia tidak sadarkan diri keadaan Delisa semakin memburuk hingga kakinya harus diamputasi, Delisa tersadar dari komanya saat mendengar bacaan shalat dari seorang ibu yang dirawat juga di klinik tempat pengungsian gempa tersebut. Ia menerima keadaan kakinya dengan lapang dada tanpa mengeluh walaupun ia telah kehilangan ummi dan kakak-kakaknya ia berusaha tetap tegar. Delisa dirawat oleh seorang dokter dari luar negeri bernama Shoope. Shoope dan Smith sangat menyayangi Delisa bahkan Smith ingin mengajak Delisa untuk tinggal bersamanya di luar negeri. Fenomena Tsunami berhasil mempertemukan Delisa dengan abinya. Delisa dan usman abinya membuat rumah dari kayu-kayu yang tergeletak. Rumah tersebut memanglah lebih kecil dibanding rumahnya dulu namun Delisa bersyukur, setidaknya ada tempat untuknya berlindung dari panas dan hujan. Delisa dibuatkan masakan oleh Koh Acan seorang pemilik toko emas yang baik hati.

Beberapa bulan kemudian…
Delisa menjalani kehidupannya dari awal bersama Abinya Usman dan para korban Tsunami lainnya. Delisa berusaha untuk terus menghafalkan bacaan shalatnya namun, ia tidak bisa untuk menyempurnakan bacaan shalatnya itu. Hingga ia diberi nasihat oleh Ustad Rakhman “Jika Delisa ingin menghafal, Delisa harus menghafalkannya dengan ikhlas Delisa harus mengahafal karena Allah jangan hanya menghafalkan untuk mendapatkan sebuah hadiah” ucap Ustad Rakhman saat duduk bersama Delisa. Malam itu Delisa bermimpi bertemu dengan umminya, yang menunjukkan kalung dan permintaan untuk menyelesaikan tugas menghafal bacaan shalatnya. Kekuatan itu telah membawa Delisa pada kemudahan menghafalnya. Delisa mampu melakukan Shalat Ashar dengan sempurna untuk pertama kali, tanpa ada kesalahan.

Suatu hari, saat Delisa hendak mencuci tangan di tepi sungai, ia melihat sebuah benda yang memantulkan sebuah cahaya dengan rasa penasaran ia mendekat. Betapa terkejutnya Delisa ketika melihat sebuah tulang jari manusia yang menggenggam sebuah kalung berliontin D milik umminya.

  1. Analisis meliputi:
    Tokoh & Penokohan
    Delisa : Manja, baik hati, dan pemalas
    Ummi Salammah : Sabar, Dermawan, Bijaksana
    Abi Usman : Baik dan sabar
    Fatimah : Baik dan Perhatian
    Aisyah : Usil, iri hati, dan baik
    Zahra : Pendiam dan baik hati
    Tiur : Baik
    Koh Acan : Dermawan
    Shopie : Baik, penyayang dan pengertian
    Smith Adam : Baik, penyayang dan suka menolong
    Ustadz Rakhman : Bijaksana, penyabar, dan penyayang
  2. Evaluasi
    Kelebihan:
    • Novel ini banyak memberikan nilai moral untuk pembacanya seperti sikap Delisa yang tangguh dengan kejadian yang menimpanya walaupun ia baru berusia 6 tahun. Melalui berbagai peristiwa yang dialami Delisa, pengarang berhasil mempermainkan emosi pembaca, anatara kesediahn dan kekaguman bercampur memunculkan empati terhadap tokoh Delisa
    • Novel ini mampu membuat para pembaca berimajinasi lebih jauh dengan latar kejadian Tsunami di Aceh yang memang benar¬-benar terjadi sehingga terkesan seperti kisah nyata
    Kekurangan:
    • Terdapat banyak kata istilah dan bahasa daerah sehingga membingungkan pembaca.

Namun demikian kekurangan yang disebabkan oleh penggunaan beberapa istilah yang sulit dipahami seakan lenyap karena pandainya pengarang memainkan emosi pembaca sehingga pembaca mudah menangkap secara utuh alur cerita yang disajikan. Buku ini sangat cocok sebagai bahan literasi maupun sekadar bacaan ringan yang dapat menambah pengalaman imajinatif pembaca, terutama kalangan pelajar.

avatar Tidak diketahui

Penulis:

Jln. Lapangan Timur kec. Margasari kab. Tegal.

Tinggalkan komentar