Diposkan pada RESENSI BUKU

Resensi Novel “Ayahku (Bukan) Pembohong”

Judul: Ayahku [Bukan]pembohong


Penerbit :Gramedia pustaka utama


Penulis : Tere Liye

Tebal buku : 299 halaman

Tahun terbit : 2011


Sampul/ilustrasi: Berwarna biru dengan latar belakang langit berawan putih dan pemandangan gunung serta pepohonan juga dengan sebuah apel dan Tenda berwarna Merah. Selain itu, ada gambar lain yaitu beberapa layang-layang yang berterbangan.


A. pendahuluan
Novel “ayahku [Bukan] pembohong yang di karang oleh Tere liye memiliki makna yang sangat mendalam. Novel ini memiliki makna tentang Persahabatan,Kejujuran,Kepercayaan,Keluarga dan sedikit Percintaan.


B. sinopsis


Tokoh utama dalam cerita ini bernama Dam, seorang anak tunggal dari ayah dan ibu yang hidup berkecukupan. Tidak miskin tidak juga kaya. Ia tumbuh dengan rambut keriting eksotik. Membuatnya diberi nama panggilan baru di sekolah, “ si keriting ”. Selain itu ia juga dipanggil “pengecut”. Adalah Jarjit, anak orang paling kaya seantero kota yang punya gara-gara.

Suatu ketika ketika Jarjit berkelahi dengan anak-anak kampung dekat sekolah mereka. Ia babak belur. Memar di sekujur tubuh. Tapi ia tidak kapok sama sekali. Malah berniat menuntut balas pada anak-anak dimulaidal itu. Ia pun mengajak seluruh teman lelakinya untuk bergabung memberi anak-anak kampung kumal itu pelajaran dan agar mereka tahu mereka tengah berhadapan dengan siapa. Ya, Jarjit memang agak sombong, maklumlah masih anak-anak. Semua teman-temannya termasuk kecuali Dam. Ia keukeuh tidak mau bertengkar hanya untuk membalaskan dendam seorang anak bernama Jarjit yang kenakalannya sudah terkenal dari kecil.

Apakah Dam seorang anak yang penakut ? tidak ! sama sekali tidak. Hanya saja ia selalu ingat kisah demi kisah yang sering diberitahukan kepada ayahnya, tentang lembah bukhara, pengendali suku angin, juga cerita sejarah hidup idolanya, Sang Kapten. Ia ingin meniru teladan-teladan yang baik dari mereka. Sejak itulah saya dipanggil pengecut. Pengecut yang tidak mau berkelahi.

Dam selalu senang dan antusias mendengar cerita dari Ayahnya. Begitupun ayah, tak pernah bosan bercerita. Ya namanya juga anak-anak. Selalu tertarik dengan cerita. Yang penting seru, mereka tidak berfikir apakah cerita itu nyata atau karangan si pencerita saja. Lambat laun Dam akan tahu ayahnya membual dengan cerita-cerita itu atau tidak. Dari cerita ayah lah ia tahu bahwa Sang Kapten, pesepak bola idolanya itu ternyata dulu hanya memperkenalkan sup jamur. Ia hidup miskin dan tak memiliki siapa-siapa yang menyemangati. Suatu saat ketika kapten kecil mengantar pesanan sup untuk ayah Dam. ( menurut cerita dari ayah , kala itu ayah sedang kuliah di luar negeri ).

Sejak itulah mereka mulai bersahabat. Ayah mengatakan bahwa Sang Kapten adalah sosok yang tak pernah menyerah dengan segala keterbatasan yang dimilikinya. Itu salah satu yang menginspirasi Dam untuk terus berprestasi. Tidak peduli, kebohongan atau tidak. Dam tidak kepikiran ke sana.
Selain cerita tentang Sang Kapten, ayah Dam juga bercerita tentang suku pengendali angin yang pernah ia temui. Bahkan sang ayah mengatakan ia pernah terbang dengan layang-layang raksasa bersama kepala suku, Dam percaya. Takjub dengan cerita ayahnya. Juga tentang apel emas dan lembah bukhara. Sejak kecil Dam puas dengan cerita demi cerita dari sang ayah.

Beranjak dewasa ia dikirim ke Akademi Gajah. Sekolah lanjutan yang 8 jam naik kereta dari kampung halaman. Di sana lah Dam tumbuh dewasa dan mulai menemukan bakat serta jati dirinya. Ia mengagumi arsitektur bangunan Akademi Gajah. Saat waktu senggang ia akan menghabiskan berjam-jam hanya untuk menggambar sketsa tempat menarik di Akademi Gajah.

Suatu saat ketika mendapat hukuman bersama Retro sahabatnya, membersihkan perpustakaan selama sebulan penuh. Sebenarnya itu bukan hukuman bagi Dam tapi keinginan yang tercapai. Ia ingin menggambar sketsa ruang perpustakaan. Dengan berjam-jam di perpustakaan otomatis memiliki waktu lebih banyak untuk menyelesaikan sketsanya. Retro yang awalnya menggerutu mendapat hukuman seperti itupun lambat laun menikmati juga. Ia menemukan satu sudut tumpukan buku-buku cerita yang berdebu tebal. Jika sudah membaca ia akan lupa waktu.

Beberapa hari sebelum hukuman mereka genap sebulan Dam menggangu Retro yang tengah khusuk membaca. Iseng, Dam pun membaca beberapa cerita yang Retro baca. matanya terbelalak. Mulutnya menganga. Cerita yang ia baca mirip sekali dengan apa yang ayahnya dulu sering ceritakan. Sejak saat itu ia mulai meragukan kebenaran cerita tersebut. Menurut Retro sangat tidak mungkin ayah dam berpetualang ke lembah bukhara mendekati menemui suku pengendali angin. Bersahabat dengan Sang Kapten, bintang sepak bola dunia itu baru ? tidak mungkin.

Dam sempat menanyakan kebenaran cerita tersebut. Bukan jawaban yang ia dapatkan melainkan kemarahan dari sang ayah. Ia merasa bersalah. Mulai saat itu ia tidak ingin membayangkan apakah cerita itu bohong atau tidak. Mungkin begitulah cara ayah mendidiknya menjadi anak yang baik. Dengan cerita-cerita yang kemungkinan besar bohong .
Di tahun akhir, 3 minggu sebelum kelulusan Akademi Gajah Dam mendapat telegram. Ia harus pulang. Ibunya yang sejak dulu rapuh jatuh sakit kini dirawat di rumah sakit. Di saat itulah ia tahu ayahnya adalah pembohong. Bukan pembohong karena cerita-cerita tak masuk akal itu berbohong tentang kondisi fisik ibunya.

Saat ibunya jatuh sakit ayah selalu bilang ibu hanya kecapekan. Padahal dokter yang merawat ibu dengan jelas mengatakan beliau mengenal kangker sejak 20 tahun lalu. Kenapa aku tak pernah dikabari ? ia juga berhak tahu kondisi ibu. Pertengkaran hebat terjadi di depan ruang operasi malam itu. Ayah berkata mereka menyembunyikannya karena tidak ingin menganggu konsentrasi dan kebahagiaan Dam. Dam tak terima, ia terlanjur benci pada ayah. Tanpa rasa bersalah ia mengatakan ayahnya adalah pembohong. Termasuk cerita-cerita masa kecilnya.

Ibunya tak bisa terselamatkan. ribuan orang datang melayat. Tak pernah ia melihat pemakaman seramai ini. Hingga pejabat dan orang penting pun datang. Saat pemakaman mulai beranjak sepi menyisakan ayah dan Dam. Sang ayah bahu Dam, besarkan hati, semoga Dam bahwa takdir terbaik. Hati Dam memaki benci. Andai harta benda yang mengobati ibu dari dulu, ini semua pasti tak terjadi.

Saat itu ayah tahu bahwa Dam sudah benci pada cerita-ceritanya. Namun ia ingin menceritakan satu kisah yang ia janjikan sebagai kisah terakhir. Tak kan ada lagi cerita-cerita lain. Namun malahan meninggalkan sang ayah.

Dam meninggalkan rumah. Ia merantau berkuliah di jurusan arsitektur. Jurusan yang dirancang untuk arsitektur kesohor seluruh negeri. Sangat jarang ia mengunjungi sang ayah yang hidup sendiri pasca ditinggal ibu. Hingga akhirnya ia bertemu dengan Taani, sahabat masa kecil yang kemudian menjadi istrinya. Mereka menikah dan dikarunia dua anak Zas dan Qon, putra putri yang teramat menggemaskan. Taani meminta Dam menyetujui ayah tinggal bersama mereka. Agar ayah tak kesepian. Agar ia dekat dengan cucunya. Dam dengan ragu mengizinkan.

Zas dan Qon sangat senang dengan kehadiran sang kakek. Mereka suka dengan cerita-cerita kakek. Masih cerita yang sama dengan yang dulu Dam dengar. Setiap kali ayah bercerita tentang anak-anak, Dam selalu menggeram tak suka. Taani yang selalu memberitahu Dam mengatakan bahwa hal itu hal yang tidak salah . Ia adalah menantu yang baik. Taani malah lebih dekat dengan ayahnya Dam sendiri.

Sampai akhirnya Zas dan Qon ketahuan membolos. Dam marah. Apalagi setelah mengetahui penyebab mereka bolos. Mereka menelusuri perpustakaan kota 8 tingkat hanya untuk mencari tahu apakah cerita mereka nyata atau tidak. Bertambah kebenciannya terhadap ayahnya. Bukan pada ayah sebenarnya tapi pada masalah yang ayah lakukan. Ia tak ingin Zas dan Qon tumbuh besar dengan cerita-cerita bohong.

Pertengkaran hebat terjadi. Dam membentak dan mengatakan ayahnya pembohong. Hancur hati sang ayah. Tanpa ragu Dam mengusir ayahnya . Taani dan cucu-cucunya setiap saat bisa mengunjungi jika mereka mau. Tapi tidak di rumah ini,di rumah ini dia yang memiliki hak dan ayahnya wajib mengikuti aturan Dam.

Taani berlinang air mata mengingatkan Dam bahwa yang ia usir itu adalah ayahnya sendiri, yang besarkan, yang merawatnya sejak kecil. Namun Dam sudah lupa diri. Ayah melangkah pergi ditemani derasnya hujan dan dinginnya malam meninggalkan rumah anak semata wayangnya. Taani, Zas, dan Qon ikut menangis layaknya langit malam. Bahkan Zas dan Qon memeluk kakeknya tak ingin ditinggal. Dam tak peduli, Ia ingin ayah segera pergi.

Esoknya sang ayah ditemukan terbujur kaki di samping pusara ibunya. Oleh penjaga makam ayah segera dilarikan ke rumah sakit. Kondisi beliau labil. Saat itulah Dam merasakan kesedihan. Muncul rasa bersalah telah mengusir sang ayah. Andai tak mengusirnya hal ini tak mungkin terjadi.

Sang ayah siuman dan ingin bertemu dengan Dam. Dengan berlinang air mata ayah meminta maaf pada Dam. Suaranya parau. Membuat sesak hati. Harusnya ia yang minta maaf, bukan ayah. Saat tubuh sang ayah terkulai lemah di ranjang rumah sakit, sang ayah meminta Dam mendengar satu cerita, ia tahu Dam sudah membenci cerita-ceritanya sejak meninggal berpuluh tahun lalu. Namun ia janji ini akan menjadi cerita terakhir. Kisah yang dulu ingin ia ceritakan di pusara sang ibu. Saat bendungan berjalan sesuainya. Kisah tentang Danau Para Sufi. Ayah mulai bercerita dengan suara paraunya.

Takdir tak bisa ditolak. Ayahnya telah kembali kepada Tuhan tepat kala cerita itu sempurna disampaikan. ribuan orang melayat. Lebih ramai dari pemakaman ibunya. Padahal sang ayah hanyalah PNS bergaji rendah biasa. Di kelopak langit entah darimana asalnya puluhan layang-layang seolah ikut menghadiri pemakaman. Di tengah acara tiba-tiba terjadi. Ada satu rombongan yang datang. Menarik perhatian seluruh pelayat. Orang-orang memberi jalan. Mereka tampak antusias. lalu gemuruh tepuk tangan penuh apresiasi di udara. Dan ternyata, rombongan tersebut adalah rombongan Sang Kapten. Dam kaget tak terkira. Bagaimana bisa? bagaimana bisa Sang Kapten datang ke pemakaman ayahnya ? disaat itulah.

“Ayah kau adalah sahabatku, Dam. Kalau bukan karena dia yang datang dan memarahi petinggi klub dulu untuk menerimaku sebagai pemain meski aku pendek, mungkin aku akan tetap menjadi pengantar sup jamur ”
Dam termangu. Membisu. Rasa bersalah membuncah. Ia keliru. Ia salah. “Ayahku ( bukan ) pembohong ” lirih Dam.


C. kelebihan

1.Alur cerita yang maju mundur membuat pembaca akan dibawa berfikir membayangkan sebelumnya
2.Cerita yang tidak membosankan dan selalu seru untuk dilanjutkan
3.Setiap bab mengandung amanat dan pesan moral yang menyentuh dan membuat semangat
Membuat emosional bermain, anda bisa menangis saat membacanya.

Banyak kalimat-kalimat motivasi dan kalimat yang masuk akal di setiap paragraf. Kalimat-kalimat tersebut tersebut dapat meningkatkan rasa sayang terhadap keluarga, terutama ayah.

Tinggalkan komentar