BLOG FEED

Diposkan pada BERITA UTAMA

Sambangi Nenek Murah, Siswa SMPN 1 Margasari Didoakan Sukses dan Pintar

ONLINE – Siswi SMP Negeri 1 Margasari sedang memberikan bantuan sosial (bansos) kepada Nenek Murah, Kamis (16/9). (Foto: bening setara)

VIRALNYA kondisi nenek Murah (80), warga Desa Jatilaba RT 01/RW 10 Kecamatan Margasari Kabupaten Tegal mengundang simpati dan keprihatinan berbagai pihak. Itu pulalah yang menggugah simpati dan keprihatanan OSIS SMPN 1 Margasari bersama Jurnalistik Spensama, saat memberikan bantuan uang dan sembako, Kamis (16/9) lalu.

Nenek Murah yang sebatangkara, memang menyita perhatian bagi siapa saja yang mendengar maupun yang membaca kehidupan kesehariannya melalui berita-berita online atau medsos (media sosial). Di usianya yang sudah senja, Nenek Murah harus menjalani hidupnya seorang diri, tak terkecuali untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Untuk makan, Nenek Murah hanya mengandalkan hasil dari dia mencari barang bekas yang tidak seberapa jumlahnya. Dengan sisa-sisa kekuatan tenaganya, Nenek Murah hanya dapat mengumpulkan sejumlah plastik bekas minuman mineral serta kertas kardus yang tidak seberapa jumlahnya.

Jika dirupiahkan sekitar Rp1.500 penghasilan Nenek Murah dari hasil mengumpulkan barang bekas. Dulu saat tenaganya masih mampu, nenek Murah sempat berjalan cilok. Namun, modal dia berjualan semakin hari kian menipis bahkan habis, sehingga nenek Murah terpaksa menyambung hidupnya dengan mencari barang bekas.

Nenek Murah tinggal di rumah yang dikategorikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Itu sudah pasti menguras air mata. Bagaimana tidak, di rumahnya sama sekali tidak ada penerangan yang memadai. “Gentenge wis pada bocor, bolong, ger udan, banyune ora mung netes tapi gemrawah saambane umah (atapnya sudah pada bocor, kalau hujan, airnya tidak hanya menetes tapi melimpah ke semua sudut rumah, Red.),” kata nenek Murah.

Ketika hujan tengah malam, saat orang lain lelap tidur, nenek Murah kelimpungan mencari wadah sebagai tempat sekadar menampung air hujan yang tidak seluruhnya tertampung lantaran tingkat kebocoran hampir merata di dalam rumahnya. Ia hanya bisa bersabar dan bertawakal menjalani hidupnya.

Kami sempat mendengar isu bahwa Nenek Murah tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah. Namun, setelah kami klarifikasi kepada Jumadi, Kepala Desa Jatilaba, ternyata ada alasan mendasar hingga nenek Murah tidak pernah mendapat bantuan.

“Pihak desa sudah mengajukan ke Pemerintah Pusat. Namun, karena adanya beberapa kendala seperti NIK (Nomor Induk Kependudukan) yang bermasalah serta tidak memiliki KK (Kartu Keluarga), akhirnya tidak bisa diproses oleh pemerintah sehingga tidak mendapatkan bantuan. Apalagi rumah yang dihuni oleh nenek Murah bukan milik sendiri melainkan milik saudara,” ujarnya.

Mungkin banyak yang belum mengetahuinya, tetapi nenek Murah sudah pernah menikah dengan laki-laki asal Kuningan. Namun, pernikahan itu hanya bertahan selama lebih kurang dua tahun.

Nenek Murah diceraikan oleh suaminya, karena tidak bisa memberikan keturunan selama masa pernikahannya tersebut. Sejak saat itu, Nenek Murah ditinggalkan suaminya yang kembali ke Kuningan dan Nenek Murah memutuskan untuk tidak menikah lagi.

Sebenarnya, nenek Murah mempunyai beberapa saudara yang hidup cukup mampu. Namun, kurangnya tingkat kepedulian membuat Nenek Murah seperti hidup sebatang kara.

Setelah viralnya nenek Murah banyak pihak yang merasa empati terhadap kondisi Nenek Murah, akhirnya banyak pihak yang memberikan bantuan entah itu dalam bentuk uang, sembako, dan lain-lain. Donasi untuk Nenek Murah beserta para lansia yang membutuhkan sudah kurang lebih Rp140 juta.

Tak jauh dari rumah Nenek Murah, ada seorang nenek bernama Nenek Dasri yang kondisinya lebih memprihatinkan. Nenek Dasri sama sekali tidak memiliki saudara. Atas dasar empati warga sekitar, akhirnya dibangun rumah satu petak di atas tanah warga yang dermawan.

Keseharian Nenek Dasri sama seperti nenek Murah, yaitu mengumpulkan barang bekas. Pendapatan beliau sekitar 50.000 per bulan. Nenek Dasri menjual rongsokannya tiap bulan.

Jadi, ketika belum mendapatkan uang hasil rongsokannya, Nenek Dasri berhutang dulu kepada pembelinya. Saat sudah mendapatkan uang hasil rongsokannya, Nenek Dasri langsung melunasi utang-utangnya. Kadang-kadang tetangganya memberi makanan.

Akhirnya, atas simpati dari siswa-siswi SMP Negeri 1 Margasari memberikan uang dan beras kepada nenek Dasri, meskipun tidak seberapa banyak, tetapi sangat membantu untuk mencukupi kehidupan sehari-harinya.

Sebenarnya jika kita telusuri banyak sekali orang-orang seperti Nenek Murah dan nenek Dasri di belahan daerah yang bahkan lebih parah dari kondisi nenek Murah dan Nenek Dasri.

Kita sebagai umat manusia sudah seharusnya saling tolong-menolong sesama. Mungkin bagi kita itu adalah hal sepele, tetapi bagi mereka itu sangat membantu.

Allah SWT menciptakan manusia itu berbeda-beda, ada yang laki-laki dan ada yang perempuan, ada yang kaya dan ada yang miskin begitu pula dengan kondisi yang sedang dialami oleh nenek Murah. Karenanya, mari kitab tingkatkan kepedulian terhadap sesama.

Karena di atas langit, masih ada langit. (*)

Reporter: Intan Fajar Gemilang, Hasbi Aulia Faras, Bening Setara Wulan

Editor: Hanan Musyaffa

Diposkan pada OPINI

Bangkitkan Kreativitas dan Semangat Belajar di Masa Pandemi

ONLINE – Siswa-siswi kelas 8I sedang melakukan kegiatan pembelajaran jarak jauh (PJJ) di rumah salah seorang siswa, Sabtu (25/9). (Foto: nesya zahra asidha)

SAAT ini, dunia sedang menghadapi pandemi Covid-19, yang belum bisa diprediksi kapan berakhir. Negara kita termasuk salah satu negara yang mempunyai jumlah kasus aktif terbanyak, bahkan pernah menduduki peringkat ke-4 pada Agustus lalu.

Akibatnya banyak sekali sektor yang terimbas, salah satunya pendidikan. Setahun lebih, siswa-siswi sekolah dari semua jenjang dan perguruan tinggi harus mengubah tata cara pembelajarannya.

Sekolah terpaksa melakukan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) yaitu daring atau sistem pembelajaran tidak bertatap muka secara langsung antara guru dan siswa, tetapi dilakukan secara online menggunakan jaringan internet.

Ini menjadi sebuah media pembelajaran baru. Semua perangkat pendidikan harus beradaptasi menyiapkan sarananya, seperti handphone, laptop, dan peralatan lainnya.

Untuk kelancaran prosesnya, baik guru maupun siswa membutuhkan kuota internet. Nah, ternyata PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) pun menyisakan persoalan yang tak kalah rumit.

Anak-anak yang belajar di rumah masing-masing, lama-kelamaan bosan dan jenuh. Kondisi ini menuntut peranan orang tua sebagai pengganti guru, yang tidak hanya mengajari materi ajar atau pelajarannya, tetapi juga menjadi pengawas supaya proses PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) bisa berlangsung sesuai rencana. Dan paling penting lagi, menjaga mood anak-anaknya biar tidak jenuh serta selalu bersemangat belajar.

Karena jika tidak bisa pintar menjaga mood anak-anak, kejenuhan yang menimpa mereka bisa berdampak fatal. Sarana PJJ yang diberikan nantinya hanya dimanfaatkan untuk main bersama (mabar, Red.) game online ataupun medsos (media sosial) yang beraneka macam jenisnya saat ini.

Untuk mengurangi kejenuhan anak-anak, orang tua tak ada salahnya mengarahkan waktu luang mereka untuk mencari kesibukan yang bermanfaat. Misalnya bercocok tanam, memasak menu-menu baru, atau membuat kerajinan seperti gantungan kunci, hiasan pintu, dan jendela serta yang lainnya.

Yang terpenting, rutinitas di antara jeda belajar anak-anak tetap diisi dengan kegiatan-kegiatan yang mengedukasi dan menumbuhkembangkan kreativitas dan semangat belajarnya. Memang tidak mudah, tetapi harus selalu dicoba.

Perihal membangkitkan semangat belajar, cobalah mulai lakukan dengan mengharuskan anak-anak meningkatkan ketekunannya dalam belajar. Tak kalah pentingnya membiasakan kemandirian saat belajar dan melatih keuletan ketika menghadapi kesulitan pembelajaran.

Dampingi anak-anak agar mereka tetap merasakan layaknya belajar bersama gurunya di sekolah. Kenalkan juga penyelesaian materi pembelajaran, dengan menggunakan sarana-sarana pembelajaran digital seperti searching di google atau berdiskusi dengan orang-orang sekitarnya.

Utamanya keluarga inti seperti ayah, ibu, kakak, dan adik, serta saudara-saudara lainnya. Otomatis ini akan semakin menambah keakraban dan jalinan kekeluargaan yang bisa membangkitkan pula semangat belajar si anak di rumah.

Pandemi yang entah kapan akan berakhir, jangan sampai membuat anak-anak hanya bermalas-malasan, tidak memanfaatkan waktunya sebaik mungkin, serta turun semangat belajarnya. Jangan sampai anak-anak hanya bermain handphone, akibatnya tugas sekolahnya pun lupa dikerjakan.

Jadi, saat anak-anak kembali melakukan PTM (Pembelajaran Tatap Muka) meski terbatas, mereka tetap bisa mengikutinya dengan baik. Jangan lupa selalu patuhi prokes (protokol kesehatan) selama PTM (Pembelajaran Tatap Muka), jadikan hari ini lebih baik daripada hari kemarin. (*)

Reporter: Nesya Zahra Asidha, Sigit Ilmiawan

Editor: Hanan Musyaffa

Diposkan pada SASTRA

Bagaikan Nabastala Senja

Oleh: Ayu Syfa Khoirun Nisa (9C)

Dia …
Bagaikan Nabastala Senja
Begitu indah dengan panorama langit berwarna jingga
Yang menyimpan beribu rasa dendam maupun cinta

Dia …
Bagaikan Nabastala Senja
Yang begitu baswara saat cahaya menyinari dirinya
Yang mampu membuat siapapun terpana melihatnya

Dia …
Bagaikan Nabastala Senja
Dengan angan-angan yang melayang terbang ke angkasa
Dengan raut wajah yang cerminkan rasa bahagia
Dialah ayah kepala keluarga
Yang tersenyum ria di langit Swastamita

Diposkan pada PROFIL

Mengenal Lebih Dekat Sang Inspirator

Siapa sih yang tidak mengenal Pak Nur Salim seluruh siswa SMP Negeri 1 Margasari, pasti sudah tidak asing lagi bukan?

Iya betul sekali Bapak H. Nur Salim S.Pd., M.Pd adalah kepala SMP Negeri 1 Margasari yang beralamatkan di Jalan Lapangan Timur Kecamatan Margasari Kabupaten Tegal. Pria kelahiran 18 Maret 1968 di Tegal ini adalah anak ke 6 dari 9 bersaudara. Beliau tinggal bersama istri juga anak-anaknya, di Balapulang Wetan, Jalan Mangga Rt 01 Rw 02.

Istri Pak Nur Salim adalah seorang wanita lembut bernama Ibu Endang Sadiningsih S.Pd. Beliau adalah seorang guru seni tari yang mengajar di SMP Negeri 1 Balapulang. Mereka mempunyai 3 orang anak. Anak pertama Pak Nur Salim mengikuti jejak orang tuanya yaitu menjadi seorang guru. Anak kedua masih menggeluti meja kuliahnya di Jurusan Desain Grafis, Institut Teknologi Bandung (ITB) dan sekarang sedang menapaki semester 2 kuliahnya. Anak bungsu Pak Nur Salim saat ini masih duduk di bangku SMP kelas VIII tepatnya di SMP Negeri 1 Balapulang.

Perjalanan karir Pak Nursalim sangat menarik. Pak Nur Salim memulai karirnya saat beliau menjadi seorang guru di SMP Negeri 1 Balapulang, pada tahun 1991. Banyak prestasi yang diraih beliau selama menjadi guru sehingga tak heran terhitung mulai tahun 2014 beliau diangkat menjadi kepala sekolah di SMP Negeri 2 Margasari. Tiga tahun beliau menjadi nahkoda di SMPN 2 Margasari, hingga pada tahun 2017 Pak Nur Salim mutasi atau pindah tugas menjadi Kepala SMP Negeri 1 Margasari sampai sekarang. Sesuai disiplin ilmu beliau yakni pendidikan olahraga, Pak Nur Salim memimpin SMP Negeri 1 Margasari dengan mengedepankan sportivitas dan kerbersamaan dalam sebuah teamwork.

Harapan Pak Nur Salim adalah memajukan SMP Negeri 1 Margasari, baik dibidang akademik maupun non akademik, membangun sarana prasana baik tempat beribadah dan sebagainnya. Kita dapat melihat contohnya seperti pembangunan Masjid, pelaksanaan UNBK, pembentukan paguyuban alumni SPENSAMA dan pelaksanaan HUT SPENSAMA yang ke 45 tahun 2019.

Pak Nur Salim sangat mendukung adanya estrakulikuler jurnalistik SMP Negeri 1 Margasari, beliau berharap eskul jurnalistik ini dapat lebih berkembang, dan beliau juga berharap dengan adanya tim jurnalistik, siswa dapat meliput segala peristiwa yang terjadi di SMP Negeri 1 Margasari, dan lebih baik lagi jika dapat diekpresikan melalui media sosial, koran, majalah, serta media lainnya. Beliau sangat mendukung adanya estrakulikuler jurnalistik di SMP Negeri 1 Margasari. Harapan terbesar Beliau terhadap ekskul jurnalistik adalah agar menjadi pelopor gerakan literasi di Spensama, selaras dengan gerakan pemerintah yang sedang menggalakkan Gerakan Literasi Nasional.

Gimana guys liputan singkat mengenai Pak Nur Salim? Sudah kenalkah kalian? jika belum, segeralah berkenalan karena tak kenal maka tak sayang dan semoga perjalanan hidup Pak Nur Salim dapat menginspirasi teman-teman meraih kesuksesan hidup.
See you…
Disusun oleh Aiska Muti Salsabila 9G dan Ayu Syfa Khoirun Nisa 9C

Diposkan pada BERITA SEKOLAH

Salam pembuka

Salam Redaksi
Assalamualaikum wr.wb teman teman

Apa kabar? Semoga baik baik aja ya…
Kami selaku tim penyusun dari blog ANGKASA mengucapkan syukur Allhamdulillah kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan nikmat-Nya, kami dapat menyelesaikan penyusunan Blog ANGKASA dengan lancar tanpa adanya hambatan apapun.
Kali ini kami meluncurkan Blog bernuansa hijau dan semoga dapat memberikan kesan ketenangan bagi pembaca Blog ANGKASA ini bukan hanya tempat penghibur saja melainkan tempat siswa berekspresi, sarana berkomunikasi, media informasi dan tempat pengembangan bakat siswa. Kami berharap, dengan adanya Blog ANGKASA ini dapat menambah wawasan serta pengetahuan seputar SMP Negeri 1 Margasari. Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang membantu dalam peluncuran blog ANGKASA ini. Harapan kami blog ANGKASA ini terbit bukan untuk tenggelam kembali namun terbit untuk memancarkan sinar yang dapat menginspirasi seluruh siswa untuk menuangkan kreativitas dan menumbuhkan jiwa-jiwa inovatif pada diri generasi penerus bangsa. Kami harapkan kritik serta saran dari pembaca demi penyempurnaan blog kami ke generasi berikutnya

Wassalamualaikum wr wb

Diposkan pada RESENSI BUKU

Resensi Buku Hafalan Shalat Delisa

  1. Identitas buku meliputi:
    Judul : Hafalan Shalat Delisa
    Pengarang : Tere Liye
    Tebal Buku : 248 halaman
    Penerbit : Republika
    Cetakan : VI, Januari 2008
  2. Sinopsis

Menceritakan anak bernama Delisa, seorang anak yang berdomisili di Aceh tepatnya di Lhok Nga. Delisa adalah anak dari Usman dan Salamah, Ia memiliki seorang kakak bernama Cut Fatimah, Cut Zahra, dan Cut Aisyah. Suatu hari Delisa mendapatkan tugas dari Ibu Guru Nur, untuk menghafalkan bacaan shalat yang akan disetorkan pada hari Minggu, 26 Desember 2004.

Untuk mendorong minat menghafal Delisa, ummi dan abi Delisa telah menyiapkan hadiah untuknya. Salamah menyiapkan sebuah kalung emas berliontin huruf D sedangkan Usman, Abi Delisa menjanjikan sepeda untuknya. Delisa sangat senang dengan janji kedua orang tuanya.
Setiap hari Delisa berusaha untuk menghafal bacaan shalatnya. Namun hasilnya nihil sekeras apapun ia berusaha menghafal, namun bacaan shalat tersebut tak kunjung masuk ke dalam pikiran Delisa

Pagi itu, Minggu tanggal 24 Desember 2004, Delisa sedang mempraktikkan hafalannya di depan kelas. Tiba-tiba datang gempa berkekuatan sangat besar sampai menimbulkan gelombang Tsunami melanda bumi Aceh. Semua orang lari terbirit-birit, kecemasan, keriuhan terdengar keras pada waktu itu. Namun Delisa tetap melanjutkan hafalan shalatnya tanpa memperdulikan air yang mulai masuk ke ruangan Delisa saat shalat, hingga pada waktu sujud, Delisa terhempas oleh gelombang Tsunami. Tempat yang dianggapnya sebagai rumah telah hancur lebur hanya ada satu bangunan yang masih utuh yaitu Masjid Baiturrakhim.

Delisa terdampar, ia sempat tersadar dan melihat temannya bernama Tiur dengan sepeda yang sudah tidak bernyawa lagi. Lalu Delisa diselamatkan oleh seorang prajurit asing bernama Smith Adam. Sudah 6 hari ia tidak sadarkan diri keadaan Delisa semakin memburuk hingga kakinya harus diamputasi, Delisa tersadar dari komanya saat mendengar bacaan shalat dari seorang ibu yang dirawat juga di klinik tempat pengungsian gempa tersebut. Ia menerima keadaan kakinya dengan lapang dada tanpa mengeluh walaupun ia telah kehilangan ummi dan kakak-kakaknya ia berusaha tetap tegar. Delisa dirawat oleh seorang dokter dari luar negeri bernama Shoope. Shoope dan Smith sangat menyayangi Delisa bahkan Smith ingin mengajak Delisa untuk tinggal bersamanya di luar negeri. Fenomena Tsunami berhasil mempertemukan Delisa dengan abinya. Delisa dan usman abinya membuat rumah dari kayu-kayu yang tergeletak. Rumah tersebut memanglah lebih kecil dibanding rumahnya dulu namun Delisa bersyukur, setidaknya ada tempat untuknya berlindung dari panas dan hujan. Delisa dibuatkan masakan oleh Koh Acan seorang pemilik toko emas yang baik hati.

Beberapa bulan kemudian…
Delisa menjalani kehidupannya dari awal bersama Abinya Usman dan para korban Tsunami lainnya. Delisa berusaha untuk terus menghafalkan bacaan shalatnya namun, ia tidak bisa untuk menyempurnakan bacaan shalatnya itu. Hingga ia diberi nasihat oleh Ustad Rakhman “Jika Delisa ingin menghafal, Delisa harus menghafalkannya dengan ikhlas Delisa harus mengahafal karena Allah jangan hanya menghafalkan untuk mendapatkan sebuah hadiah” ucap Ustad Rakhman saat duduk bersama Delisa. Malam itu Delisa bermimpi bertemu dengan umminya, yang menunjukkan kalung dan permintaan untuk menyelesaikan tugas menghafal bacaan shalatnya. Kekuatan itu telah membawa Delisa pada kemudahan menghafalnya. Delisa mampu melakukan Shalat Ashar dengan sempurna untuk pertama kali, tanpa ada kesalahan.

Suatu hari, saat Delisa hendak mencuci tangan di tepi sungai, ia melihat sebuah benda yang memantulkan sebuah cahaya dengan rasa penasaran ia mendekat. Betapa terkejutnya Delisa ketika melihat sebuah tulang jari manusia yang menggenggam sebuah kalung berliontin D milik umminya.

  1. Analisis meliputi:
    Tokoh & Penokohan
    Delisa : Manja, baik hati, dan pemalas
    Ummi Salammah : Sabar, Dermawan, Bijaksana
    Abi Usman : Baik dan sabar
    Fatimah : Baik dan Perhatian
    Aisyah : Usil, iri hati, dan baik
    Zahra : Pendiam dan baik hati
    Tiur : Baik
    Koh Acan : Dermawan
    Shopie : Baik, penyayang dan pengertian
    Smith Adam : Baik, penyayang dan suka menolong
    Ustadz Rakhman : Bijaksana, penyabar, dan penyayang
  2. Evaluasi
    Kelebihan:
    • Novel ini banyak memberikan nilai moral untuk pembacanya seperti sikap Delisa yang tangguh dengan kejadian yang menimpanya walaupun ia baru berusia 6 tahun. Melalui berbagai peristiwa yang dialami Delisa, pengarang berhasil mempermainkan emosi pembaca, anatara kesediahn dan kekaguman bercampur memunculkan empati terhadap tokoh Delisa
    • Novel ini mampu membuat para pembaca berimajinasi lebih jauh dengan latar kejadian Tsunami di Aceh yang memang benar¬-benar terjadi sehingga terkesan seperti kisah nyata
    Kekurangan:
    • Terdapat banyak kata istilah dan bahasa daerah sehingga membingungkan pembaca.

Namun demikian kekurangan yang disebabkan oleh penggunaan beberapa istilah yang sulit dipahami seakan lenyap karena pandainya pengarang memainkan emosi pembaca sehingga pembaca mudah menangkap secara utuh alur cerita yang disajikan. Buku ini sangat cocok sebagai bahan literasi maupun sekadar bacaan ringan yang dapat menambah pengalaman imajinatif pembaca, terutama kalangan pelajar.

Diposkan pada SASTRA

Gurindam

Apabila dengki sudah bertanah,
Datanglah darinya beberapa anak panah

Mengumpat dan memuji hendaklah pikir,
Disitulah banyak orang yang tergelincir.

Jika hendak mengenal orang yang berakal,
Didalam dunia mengambil bekal.

Jika engkau budiman,
Maka hiduplah dengan sopan

Diposkan pada SASTRA

Pantun

Beli kacang beli kuaci
Pulangnya ketemu pawang kunci
Selamat datang di blog kami
Semoga senang dan terinpirasi

Pergi ke warung beli bakwan
Jangan lupa mampir ke Pak Bambang
Karena jasa para Pahlawan
Kita bisa merdeka sampe sekarang

Pohon cemara tinggi menjulang
Gatotkaca gagah perkasa
Setelah ratusan tahun pahlawan berjuang
Sampailah kita di hari merdeka

Jalan jalan ke Pak Bondan
Jangan lupa baris berjajar
Jika engkau murid teladan
Maka rajinlah untuk belajar

Jika akan pergi ke dusun
Jangan lupa membeli beras
Jika kamu belajar tekun
Pasti akan naik kelas

Karya: Aena Nur Rahma Muliya 9G dan Aiska Muti Salsabila 9G dan Talista Resta Hakiki 9E

Diposkan pada BERITA SEKOLAH

Motivasi

Halo semuaaa!!! Bertemu lagi dengan kami, pada kesempatan kali ini, kami akan berbicara tentang alumni SMP Negeri 01 Margasari. Selain kak Salsa, ada juga loh alumni-alumni lain yang mengangkat nama SMP Negeri 01 Margasari diberbagai ajang perlombaan, seperti kak Andin. Siapa sih yang gak kenal kak Andin? pasti banyak yang sudah kenal bukan? Siswi bernama lengkap Andini Salsabila Ismanto Putri ini pernah menjuarai lomba karya ilmiah remaja loh. Dengan pupuk organiknya, dia mampu mengangkat nama SMP Negeri 01 Margasari ditingkat kabupaten atau kota. Selain itu, dia juga aktif dalam kegiatan OSIS di Spensama. Dia juga pernah dicalonkan sebagai ketua OSIS Spensama loh. Hebat bukan? kesan-kesan kak Andin waktu sekolah di SMP Negeri 01 Margasari ada banyak loh, di antaranya adalah senang karena bertemu teman baru, pengalaman yang baru terus banyak, bertemu guru-guru yang baik dan dapat mengerti siswa-siswi nya. Selain pengalaman dan kesan, ada juga pesan dari ka Andin untuk Spensama yaitu lebih memperhatikan kedisiplinan siswa-siswi. Untuk Bapak Ibu guru, kak Andin senang sekali dapat bertemu guru-guru baik yang mengajar sekaligus dapat menjadi seorang sahabat yang dapat memberikan solusi layaknya orang tua, yang dapat di ajak bertukar pikiran juga. Untuk adik-adik kelas Spensama tercinta ini, jaga nama baik sekolah, khususnya di media sosial. Tunjukan bahwa anak Spensama itu benar-benar anak yang berkualitas. Tunjukan bahwa Spensama walaupun di desa tapi tetap bisa. Jangan hanya banyak gaya tapi harus juga bikin karya. Jangan sombong, tetap semangat belajar, jaga juga sopan santun sama guru,dan Kakak kelas juga. Jangan lupa 5S.
Pesan untuk kelas 9 “Jangan jadikan ujian sebuah hal yang menakutkan, tapi jadikan itu untuk pacuan agar lebih semangat belajar”.
Motivasi kak Andin semangat belajar karena kak Andin sadar masih bodoh. Jadikan motivasi tersebut sebagai pandangan untuk kita berpikir lebih dewasa ya kawan-kawan.

Karya: Siti Lailatusyifa 9f

Diposkan pada BERITA SEKOLAH

Lagi Lagi Sapi Jadi Qurban

Dalam menyambut hari raya idhul adha, umat islam di wajibkan untuk berkurban bagi mereka yang mampu. Allah SWT. Berfirman pada al-quran surat al-kautsar ayat 2 “maka shalatlah untuk RABBMU sembelihlah hewan.” (Q.S. AL-Kautsar/108:2). Sesuai dengan firman tersebut umat islam diwajibkan bagi yang mampu untuk berkurban dengan niat dan ikhlas.
Pada hari Senin, 12 Agustus 2019 (10 Dzulhijjah 1440) SMP NEGERI 01 MARGASARI mengadakan acara penyembelihan hewan qurban. Sebelum itu di adakannya MPK (musyawarah perwakilan kelas). MPK bertujuan untuk memberitahukan informasi penting tentang acara yang akan diselenggarakan oleh sekolah. MPK beranggotakan pengurus kelas (ketua kelas, dan bendahara tapi bisa juga sekretaris), dan pengurus OSIS. Acara MPK dipimpin oleh ibu Sri Yuniasih S.Pd selaku guru agama di SMP NEGERI 01 MARGASARI. Hasil dari MPK tersebut nantinya akan di sampaikan oleh pengurus kelas di kelasnya masing-masing.
Dalam hal tersebut, ibu Sri Yuniasih S.Pd menyampaikan maksud diadakannya penyembelihan hewan qurban di sekolah. Beliau menyampaikan bahwa proses penyembelihan hewan qurban tersebut di tujukan kepada seluruh peserta didik SPENSAMA dalam rangka pembelajaran. Penyembelihan tersebut dapat berguna untuk melaksanakan dan mempraktikan bagaimana proses penyembelihan hewan qurban dari awal hingga akhir, pada saat kelak kita dewasa nanti jika kita akan berqurban.
Lalu ibu Sri Yuniasih menyampaikan laporan tentang penyembelihan hewan qurban SMP NEGERI 01 MARGASARI. Pada acara ini hewan qurban yang disembelih adalah seekor sapi. Hewan qurban berupa sapi merupakan sumbangan dari sodakoh peserta didik dan guru-guru.
Setelah ibu Yuni menyampaikan laporan penyembelihan hewan qurban beliau menyampaikan latar belakang diadakannya penyembelihan hewan pada saat Hari Raya Idhul Adha. Berlatar belakang pada saat Allah SWT. memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya Nabi Ismail, walaupun pada saat itu Allah sedang menguji keimanan Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim yang sangat menuruti perintah Allah SWT. akhirnya menuruti perintah tersebut. Nabi Ismail pun juga menuruti perintah Allah SWT. tersebut, dengan ikhlas Nabi Ismail bersedia untuk disembelih oleh ayahnya. Namun pada saat akan menyembelih anaknya, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menggantikan Nabi Ismail dengan seekor hewan qurban untuk disembelih, pada saat itu hewan qurban yang diturunkan Allah SWT. dari surga akhirnya disembelih oleh Nabi Ibrahim.
Dengan peristiwa ini, allah swt mewajibkan kepada seluruh umat islam yang mampu untuk menyembelih hewan qurban pada tanggal 10 hingga 12 dzulhijjah atau biasa disebut hari raya idul adha. Pada tanggal tersebut bertepatan pada hari tasrik namun pada tanggal 10 dzulhijjah disebut hari akhir, allah mengharamkan kepada seluruh umat islam yang sedang berpuasa, jadi pada hari itu kita tidak boleh berpuasa. Setelah itu ibu Yuni menyampaikan berqurban dengan baik dan benar sesuai syariat islam.
Selanjutnya kepala sekolah bapak Nursalim S.Pd M.Pd memberikan arahan untuk menyaksikan proses penyembelihan. Namun hal buruk terjadi sapi yang akan disembelih lepas dari ikatan nya lalu masuk ke dalam SD NEGERI 3 MARGASARI. Letak SD tersebut berada disamping sekolah kami. Pada akhirnya kami pun tidak menyaksikan proses penyembelihan karena mengantisipasi supaya sapi itu tidak depresi lagi melihat banyak kerumunan orang.
Pada proses penyembelihan hewan kurban, penyembelihan dilakukan oleh orang yang menyembelih di bantu oleh pengurus OSIS, beberapa siswa Spensama serta guru guru dan staf tata usaha. Proses pertama dalam menyembelih hewan kurban adalah menyiapkan peralatan untuk menyembelih dan memotong hewan kurban yang hendak disembelih, tentunya disiapkan hewan kurban. Lalu dibuatkan lubang untuk pada saat leher hewan disembelih darah yang keluar, langsung dialihkan masuk kedalam lubang tersebut. Kemudian hewan kurban disembelih sesuai syariat islam. Setelah disembelih, hewan kurban yang sudah disembelih kemudian dikuliti. Jika sudah dikuliti hewan kurban dipotong potong menjadi bagian bagian kecil. Kemudian dikemas menggunakan plastik.
Hasilnya berupa 350 bungkus daging sapi. Setiap bungkus nya adalah setengah KG dengan jumlah penerima 350 orang. Penerima terdiri dari peserta didik (yang berhak menerima) dengan jumlah 150 bungkus, warga sekitar dengan jumlah 150 bungkus, dan sisanya yang membantu proses penyembelihan.

Karya: 1. Aiska Muti Salsabila (9G)
2. Aena Nur Rahma Muliya (9G)
3. Melinda Eviyanti (9G)